Bangkok sedang ramai dibicarakan karena satu paradoks yang terasa getir.
Kota ini baru dinobatkan sebagai destinasi wisata kuliner terbaik kedua di Asia.
Namun pada saat bersamaan, street food yang menjadi denyutnya justru terancam digusur.
Di mesin pencari, orang mengetik dengan nada cemas.
Apakah wisata kuliner Bangkok masih akan sama, jika trotoar dibersihkan dari pedagang kaki lima?
-000-
Isu yang Membuat Bangkok Mendadak Jadi Cermin
Aroma bawang putih, cabai, dan daging panggang selama ini menempel pada ingatan wisatawan.
Di Bangkok, bau itu bukan sekadar bumbu.
Ia adalah penanda kelas sosial, ritme kerja, dan cara kota menyambut siapa pun yang lapar.
Kini Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA) memperketat aturan pedagang kaki lima.
Trotoar dibersihkan, pedagang direlokasi, dan area komersial diprioritaskan untuk ketertiban.
Di atas kertas, ini terdengar seperti tata kota yang wajar.
Di lapangan, kebijakan itu menyentuh urat nadi ekonomi keluarga.
Data BMA menunjukkan jumlah pedagang kaki lima menurun drastis sejak 2022.
Penurunannya diperkirakan lebih dari 60 persen.
Sekitar 10.000 pedagang menghilang dari jalanan Bangkok.
Sejumlah pedagang pindah ke hawker center.
Yang lain gulung tikar, karena aturan ketat atau bisnis yang tak lagi menguntungkan.
-000-
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Pertama, ini konflik klasik antara modernisasi dan tradisi yang terlihat kasatmata.
Orang mudah membayangkan trotoar yang dulu hidup, lalu mendadak kosong.
Konflik yang bisa dibayangkan biasanya cepat menjadi bahan perbincangan.
Kedua, ada ironi waktu yang kuat.
Bangkok dipuji sebagai destinasi kuliner, tetapi pelaku kuliner jalanannya justru ditekan.
Ironi seperti ini terasa seperti cerita yang belum selesai.
Ketiga, isu ini menyentuh dua emosi sekaligus.
Ada simpati pada pedagang kecil, dan ada keinginan kota yang rapi serta nyaman.
Ketika dua emosi itu bertabrakan, publik cenderung ikut menilai.
-000-
Relokasi Bukan Sekadar Pindah Meja
Bagi pedagang, relokasi bukan urusan memindahkan gerobak.
Relokasi berarti memindahkan pelanggan, kebiasaan, dan arus uang harian.
Looknam Sinwirakit, penjual ketan goreng di Chinatown, mengaku khawatir.
Ia pernah didenda 1.000 baht karena menghalangi jalan.
Ia menyebut situasinya tidak adil, tetapi tetap harus patuh jika diminta pergi.
Di sisi lain, Wong Jaidee, penjual durian, menyampaikan kegelisahan yang lebih telanjang.
Bangkok adalah kota berbiaya hidup tinggi.
Ia mengaku tidak punya rencana cadangan jika harus pindah.
Kalimat itu pendek, tetapi berat.
Ia menggambarkan bagaimana ekonomi informal sering berjalan tanpa jaring pengaman.
-000-
Hawker Center dan Janji Kerapian
BMA mendorong pedagang masuk ke salah satu dari lima hawker center yang baru dibuka.
Yang terbaru berada dekat Taman Lumphini pada April 2026.
Di sana, pedagang membayar sewa 60 baht per hari.
Panissara Piyasomroj, penjual mi sejak 2004, merasa kondisinya lebih baik.
Ia menyebut bisnisnya seperti naik kelas, lebih bersih, dan nyaman.
Akses air dan listrik membuat pekerjaan lebih manusiawi.
Namun pengalaman Panissara tidak otomatis sama bagi semua orang.
Di dunia kuliner jalanan, lokasi adalah segalanya.
Orang membeli bukan hanya rasa, tetapi juga kebetulan.
Trotoar yang ramai menciptakan kebetulan itu.
Ketika kebetulan dipindahkan ke bangunan, sebagian pesona ikut berubah.
-000-
Wisatawan dan Rasa Kehilangan yang Tidak Bisa Dibeli
Bagi wisatawan, street food Bangkok sering terasa seperti museum yang hidup.
Bedanya, museum ini bisa dimakan.
Oliver Peter, turis asal Jerman, menyayangkan jika kultur itu hilang.
Ia menyebut Thailand memiliki salah satu kuliner terbaik dunia.
Baginya, lenyapnya pedagang jalanan adalah kehilangan budaya.
Di titik ini, kita melihat sesuatu yang menarik.
Street food bukan hanya transaksi, tetapi narasi kota.
Ketika narasi kota diubah, pengalaman wisata ikut berubah.
-000-
Ketertiban Kota dan Pertanyaan tentang Siapa yang Punya Ruang
Pejabat BMA, Kunanop Lertpraiwan, menegaskan komunikasi dilakukan dengan jelas.
Ia menyebut tidak ada pengusiran mendadak.
Pernyataan ini penting, karena kebijakan publik membutuhkan legitimasi.
Namun legitimasi bukan hanya soal prosedur.
Legitimasi juga soal rasa aman yang dirasakan warga kecil.
Pedagang lansia yang puluhan tahun berjualan di lokasi sama menghadapi ketakutan baru.
Modernisasi kota, bagi mereka, sering terasa seperti pintu yang menutup perlahan.
-000-
Isu Besar yang Relevan bagi Indonesia
Isu Bangkok terasa dekat bagi Indonesia, karena kota-kota besar kita punya dilema serupa.
Trotoar sering diperebutkan antara pejalan kaki dan ekonomi informal.
Di satu sisi, publik menuntut akses pejalan kaki yang aman.
Di sisi lain, banyak keluarga menggantungkan hidup pada ruang-ruang kecil di pinggir jalan.
Ketika negara menata ruang, pertanyaan yang muncul selalu sama.
Siapa yang diberi tempat, dan siapa yang diminta menyingkir?
Isu ini juga menyentuh citra pariwisata.
Indonesia sering menjual pengalaman otentik.
Namun otentik tidak bisa dipisahkan dari orang-orang yang memproduksinya.
Jika pelaku kecil tersisih, otentik bisa berubah menjadi dekorasi.
-000-
Kerangka Konseptual: Ekonomi Informal dan Hak atas Kota
Untuk memahami ketegangan ini, kita bisa meminjam dua lensa riset yang sering dipakai.
Pertama, konsep ekonomi informal.
Pedagang kaki lima adalah bagian dari ekonomi yang bekerja di luar skema formal.
Mereka fleksibel, cepat, dan mengisi kebutuhan makan murah.
Namun mereka juga rentan, karena bergantung pada toleransi ruang dan aturan.
Kedua, gagasan hak atas kota.
Ruang publik bukan hanya infrastruktur, tetapi arena hidup.
Ketika ruang publik ditertibkan, yang dipertaruhkan adalah akses kelompok kecil terhadap penghidupan.
Dua lensa ini membantu kita melihat bahwa debatnya bukan semata soal estetika kota.
Debatnya adalah tentang distribusi kesempatan di ruang yang sama.
-000-
Pelajaran dari Luar Negeri: Singapura dan Penataan Hawker
Isu penataan pedagang bukan cerita baru di dunia.
Singapura kerap disebut sebagai contoh transformasi pedagang jalanan menjadi hawker center.
Di sana, penataan dilakukan dengan pendekatan kebersihan dan kesehatan publik.
Hawker menjadi ikon nasional, sekaligus bagian dari identitas kuliner.
Namun contoh ini juga menunjukkan syarat penting.
Penataan membutuhkan desain lokasi yang strategis, arus pengunjung, dan mekanisme agar pedagang tetap hidup.
Tanpa itu, relokasi bisa berubah menjadi pemindahan masalah.
Bangkok kini berada di persimpangan yang mirip, meski konteksnya berbeda.
Hawker center bisa menjadi solusi, tetapi tidak otomatis menyelamatkan semua.
-000-
Menimbang Dua Kebenaran yang Sama-sama Mendesak
Ada dua kebenaran yang sama-sama sulit dibantah.
Trotoar memang harus kembali pada fungsi dasarnya, terutama untuk keselamatan pejalan kaki.
Namun ribuan pedagang juga membutuhkan kepastian untuk bertahan.
Jika penataan hanya menekankan larangan, kota bisa rapi tetapi dingin.
Jika penataan hanya menekankan toleransi, kota bisa hidup tetapi semrawut.
Tantangannya adalah membangun jalan tengah yang tidak memalukan siapa pun.
-000-
Rekomendasi: Cara Menanggapi Isu Tanpa Mengorbankan Martabat
Pertama, kebijakan relokasi perlu mengutamakan keberlanjutan pendapatan pedagang.
Ukuran keberhasilan bukan jumlah trotoar bersih, tetapi jumlah pedagang yang tetap bertahan.
Kedua, komunikasi harus disertai transisi yang realistis.
Pedagang lansia memerlukan pendampingan yang lebih intens, karena daya adaptasi mereka berbeda.
Ketiga, penataan harus menjaga pengalaman kota.
Jika hawker center ingin menggantikan trotoar, ia harus dirancang agar tetap mudah diakses dan ramai.
Keempat, wisatawan dan warga bisa berperan dengan cara sederhana.
Mendukung pedagang yang direlokasi adalah bentuk solidaritas yang konkret.
Kelima, diskusi publik perlu menahan diri dari penghakiman cepat.
Pedagang bukan pengganggu semata, dan pemerintah bukan musuh otomatis.
Di antara keduanya ada kebutuhan yang sama, yaitu kota yang layak dihuni.
-000-
Bangkok, dan Pertanyaan yang Akan Menghantui Banyak Kota
Bangkok mengajukan pertanyaan yang akan menghantui banyak ibu kota.
Apakah modernitas harus selalu berarti penghapusan jejak yang paling manusiawi?
Atau bisakah modernitas berarti merawat yang rapuh, sambil menata yang kacau?
Street food tidak hanya soal rasa.
Ia adalah cara masyarakat kelas pekerja bertahan, dan cara kota merayakan keberagaman.
Jika ia hilang, yang lenyap bukan hanya gerobak.
Yang lenyap adalah cerita tentang bagaimana kota memberi ruang bagi warganya.
-000-
Pada akhirnya, ketertiban yang baik seharusnya tidak menuntut orang kecil membayar seluruh biayanya.
Dan tradisi yang baik seharusnya tidak menutup mata pada keselamatan publik.
Di antara keduanya, kota yang bijak memilih jalan yang membuat warganya tetap bisa hidup.
Seperti sebuah pengingat yang sering kita temukan dalam berbagai kebijaksanaan hidup.
“Kota yang besar bukan yang paling tinggi gedungnya, melainkan yang paling luas ruangnya bagi manusia.”

