BERITA TERKINI
Lemang dan Ingatan Kolektif: Mengapa Kuliner Bambu Ini Mendadak Jadi Tren

Lemang dan Ingatan Kolektif: Mengapa Kuliner Bambu Ini Mendadak Jadi Tren

Isu yang Membuat Lemang Menjadi Tren

Nama “lemang” kembali ramai dibicarakan, menanjak di percakapan publik, seolah menarik orang pulang pada satu kata yang akrab namun sering dilupakan.

Pemicunya jelas: tradisi Meuseuraya Toet Leumang di Aceh Barat Daya, saat warga membakar 15.000 batang lemang serentak di bantaran sungai.

Peristiwa itu dilaporkan sebagai upaya pelestarian warisan kuliner, sekaligus tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menurut laporan yang dikutip dari Antara.

Di era ketika perhatian mudah berpindah, sebuah ritual memasak yang memerlukan waktu, bara api, dan kerja bersama terasa kontras.

Kontras itulah yang membuat lemang bukan sekadar makanan. Ia menjadi peristiwa, dan peristiwa mudah menjadi tren.

-000-

Lemang: Makanan, Metode, dan Cerita

Lemang adalah makanan berbahan beras ketan dan santan, dimasak di dalam ruas bambu yang dilapisi daun pisang.

Bambu berisi adonan ketan itu dibakar dengan bara api hingga matang. Prosesnya perlahan, menuntut ketekunan, dan tidak bisa diselesaikan dengan tergesa.

Metode memasak ini membentuk identitas rasa. Aroma bambu dan daun pisang menyatu, menghadirkan karakter yang sulit ditiru oleh panci atau rice cooker.

Di banyak daerah, lemang hadir dalam acara adat, perayaan, dan kegiatan masyarakat. Ia sering datang bersama keramaian, doa, dan kebiasaan berbagi.

Tradisi membuat lemang juga kerap dilakukan bersama-sama. Ada pekerjaan yang dibagi, ada bara yang dijaga, ada waktu yang dilalui kolektif.

-000-

Mengapa Lemang Menjadi Tren: Tiga Alasan

Pertama, ada daya tarik rekor dan skala. Membakar 15.000 batang lemang serentak menciptakan gambar besar yang mudah menyebar.

Skala memberi sensasi “peristiwa nasional”, meski berakar dari kampung dan komunitas. Publik menyukai sesuatu yang tampak monumental, apalagi terkait tradisi.

Kedua, ada kerinduan pada hal yang nyata dan berjejak. Lemang menuntut api, bambu, daun, dan tangan manusia.

Di tengah kehidupan digital, publik mencari pengalaman yang terasa “asli”. Lemang menawarkan keaslian melalui proses, bukan sekadar hasil.

Ketiga, lemang menyentuh identitas Melayu dan keragaman Nusantara sekaligus. Ia dikenal di berbagai daerah, dengan variasi dan konteks budaya berbeda.

Ketika satu daerah merayakannya, daerah lain ikut merasa memiliki. Rasa memiliki lintas wilayah inilah yang memicu percakapan meluas.

-000-

Di Balik Resep: Mengapa Proses Memasak Menjadi Makna

Bahan lemang sederhana: beras ketan, santan, garam, bambu, dan daun pisang. Namun kesederhanaan bahan tidak berarti sederhana makna.

Ketan dicuci, bambu dilapisi daun, adonan dimasukkan, lalu dibakar. Setiap tahap mengandung pengetahuan yang biasanya diwariskan lewat praktik.

Di sini, kuliner menjadi arsip hidup. Ia menyimpan teknik, rasa, dan cara bekerja bersama yang tidak selalu tertulis.

Dalam ilmu warisan budaya, praktik seperti ini kerap dipahami sebagai “pengetahuan tradisional” yang bertahan karena diulang dan dirawat.

Ketika sebuah komunitas memasak bersama, yang dipertahankan bukan hanya menu. Yang dijaga adalah hubungan antarorang dan rasa saling bergantung.

-000-

Riset yang Relevan: Kuliner sebagai Warisan Takbenda

Dalam kajian warisan budaya takbenda, makanan sering diposisikan sebagai praktik sosial, bukan sekadar produk konsumsi.

Yang dinilai penting adalah keterampilan, ritual, dan pengetahuan yang menyertai. Cara memasak, waktu, alat, serta ruang sosial menjadi satu kesatuan.

Kerangka ini membantu memahami mengapa lemang menarik perhatian. Ia bukan hanya “enak”, tetapi juga memuat tata cara dan kebersamaan.

Riset pariwisata budaya juga kerap menekankan bahwa pengalaman autentik lahir dari narasi dan partisipasi, bukan dari komodifikasi semata.

Meuseuraya Toet Leumang memperlihatkan partisipasi massal. Publik melihat proses, bukan hanya foto makanan jadi.

-000-

Ketika Lemang Menyentuh Isu Besar Indonesia

Tren lemang membuka percakapan lebih luas tentang pelestarian budaya di Indonesia yang sangat beragam, tetapi rentan tergerus perubahan gaya hidup.

Ia juga menyentuh isu ketahanan tradisi. Banyak pengetahuan kuliner bertahan karena ada komunitas yang rutin mempraktikkannya.

Jika tradisi berhenti dilakukan, resep bisa dicatat, tetapi rasa dan teknik sering sulit dipulihkan. Lemang mengingatkan bahwa budaya perlu “dikerjakan”.

Di sisi lain, tren ini berkaitan dengan ekonomi budaya. Kuliner tradisional sering menjadi pintu masuk bagi perputaran ekonomi lokal.

Namun ekonomi budaya menuntut kehati-hatian. Nilai tradisi bisa menguat bila dikelola baik, tetapi bisa rapuh bila hanya dikejar sebagai sensasi.

-000-

Kontemplasi: Bara Api, Waktu, dan Kesabaran

Lemang dimasak perlahan. Bara api tidak bisa dipaksa mempercepat tanpa risiko gosong atau matang tidak merata.

Dalam proses itu ada pelajaran yang terasa relevan bagi bangsa yang sering ingin cepat, ingin segera, ingin selesai hari ini juga.

Komunitas yang menjaga bara mengingatkan bahwa hasil baik lahir dari perhatian kecil yang diulang, bukan dari satu keputusan besar saja.

Begitu pula pelestarian budaya. Ia bukan proyek satu kali, melainkan kebiasaan yang terus dipraktikkan, disesuaikan, dan diwariskan.

Di bantaran sungai Lueng Asan, 15.000 batang lemang bukan hanya angka. Ia adalah simbol daya tahan kerja kolektif.

-000-

Referensi Luar Negeri: Ketika Tradisi Makanan Menjadi Peristiwa

Di berbagai negara, tradisi kuliner juga kerap menjadi magnet perhatian publik ketika dilakukan secara kolektif dan diberi ruang perayaan.

Di Spanyol misalnya, paella kerap dimasak dalam wajan raksasa saat festival. Publik datang bukan semata untuk makan, tetapi untuk menyaksikan proses.

Di Jepang, mochi dibuat bersama dalam tradisi menumbuk ketan. Daya tariknya terletak pada kerja tim, ritme, dan kehati-hatian agar aman.

Di Korea, kimjang atau tradisi membuat kimchi dilakukan bersama, menegaskan nilai gotong royong dan persiapan menghadapi musim.

Contoh-contoh ini menunjukkan pola yang serupa: makanan menjadi panggung kebudayaan ketika prosesnya melibatkan komunitas dan membawa cerita.

-000-

Analisis: Antara Rekor, Pelestarian, dan Risiko Penyederhanaan

Pencatatan rekor seperti MURI dapat membantu menarik perhatian dan membangkitkan kebanggaan. Ia membuat tradisi terlihat dan terdengar lebih luas.

Namun ada risiko penyederhanaan. Tradisi bisa dipersempit menjadi angka, sementara makna sosialnya justru tenggelam di balik sorak perayaan.

Karena itu, penting menempatkan rekor sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir. Tujuan utamanya tetap pelestarian praktik dan pengetahuan.

Lemang layak dirayakan bukan hanya karena banyak, tetapi karena dibuat bersama, dengan teknik yang dijaga, dan dengan rasa yang diwariskan.

Di titik ini, tren dapat menjadi peluang. Perhatian publik bisa diarahkan untuk memahami akar budaya, bukan berhenti pada sensasi viral.

-000-

Apa yang Bisa Dilakukan Publik dan Pemerintah

Pertama, dokumentasikan proses, bukan hanya hasil. Ceritakan tahap memasak, jenis bambu yang dipakai, peran daun pisang, dan cara menjaga bara.

Dokumentasi yang baik membantu pengetahuan bertahan lintas generasi. Ia juga mencegah tradisi berubah menjadi sekadar gimmick tanpa isi.

Kedua, dukung ruang belajar di komunitas. Festival dapat disertai lokakarya, praktik bersama, dan pelibatan anak muda sebagai pewaris, bukan penonton.

Ketiga, jaga etika peliputan dan promosi. Beri ruang pada suara warga, sejarah lokal, dan konteks adat, agar tradisi tidak diambil alih narasi luar.

Keempat, dorong penguatan ekonomi lokal secara wajar. Jika lemang menjadi daya tarik, pastikan manfaatnya kembali ke komunitas yang merawat tradisi.

-000-

Menutup dengan Harapan

Tren lemang mengingatkan bahwa Indonesia tidak kekurangan rasa. Yang sering kurang adalah kesediaan untuk berhenti sejenak dan mendengarkan cerita di baliknya.

Di dalam bambu yang dibakar perlahan, ada pelajaran tentang waktu, ketekunan, dan kebersamaan. Nilai-nilai ini kerap kita cari saat hidup terasa terpecah.

Jika tren ini bertahan sebagai percakapan yang lebih dalam, lemang tidak hanya hadir di meja. Ia hadir sebagai pengingat bahwa warisan perlu dijaga bersama.

“Kita tidak mewarisi tradisi dari masa lalu, kita meminjamnya dari generasi yang akan datang.”