Ada momen sederhana yang belakangan ramai dibicarakan warganet Indonesia.
Sejumlah selebriti terlihat bersantap kuliner khas bersama warga Suku Bajo di bibir Pantai Beta, Sulawesi Tengah.
Peristiwa itu terjadi setelah tari Doro, tarian yang melambangkan suka cita dan ungkapan syukur kepada Tuhan.
Cuplikan tersebut berasal dari tayangan “Tanah Air Beta” Trans TV, dengan dokumentasi Ade.
Namun yang membuatnya menjadi tren bukan semata makanan, atau pemandangan pantai yang memesona.
Yang menggerakkan percakapan publik adalah pertemuan antara selebritas, ritual budaya, dan kehidupan masyarakat pesisir yang jarang menjadi pusat perhatian.
-000-
Mengapa Momen Ini Menjadi Tren
Tren sering lahir dari sesuatu yang tampak ringan, tetapi menyentuh lapisan emosi kolektif.
Dalam tayangan itu, tari Doro menjadi pintu masuk.
Ia menghadirkan suasana syukur yang mudah dipahami siapa pun, lintas agama dan latar sosial.
Setelah tarian, adegan makan bersama di tepi pantai memperpanjang rasa kebersamaan.
Ada tiga alasan kuat mengapa isu ini melesat di Google Trend.
Pertama, publik Indonesia menyukai narasi keakraban yang terasa “nyata”.
Selebriti yang duduk bersama warga, menyantap hidangan lokal, memberi kesan jarak sosial mengecil, setidaknya untuk beberapa menit.
Kedua, konten ini menyatukan tiga daya tarik sekaligus, yaitu budaya, kuliner, dan lanskap alam.
Ketiganya adalah tema yang paling mudah viral karena memicu rasa ingin tahu, sekaligus rasa bangga.
Ketiga, Suku Bajo masih sering dipahami secara stereotip atau sekadar eksotis.
Saat mereka tampil sebagai tuan rumah yang hangat, publik melihat sisi lain, bukan sekadar label.
-000-
Yang Terlihat di Layar, dan Yang Tersirat
Berita ini singkat, tetapi menyimpan banyak lapisan.
Dimulai dari tari Doro sebagai simbol suka cita dan syukur kepada Tuhan.
Lalu berpindah ke adegan bersantap kuliner khas di bibir pantai.
Di situ, kamera menangkap perjumpaan yang sering kita rindukan, yaitu duduk bersama tanpa banyak prasangka.
Akan tetapi, layar televisi juga mengingatkan kita pada pertanyaan yang lebih besar.
Seberapa sering masyarakat pesisir hadir dalam percakapan nasional, bukan hanya sebagai latar, melainkan sebagai subjek?
Seberapa sering tradisi lokal dipahami sebagai pengetahuan hidup, bukan sekadar tontonan?
Dan seberapa jauh pariwisata mampu berjalan beriringan dengan martabat komunitas setempat?
-000-
Kuliner sebagai Bahasa Kebudayaan
Makan bersama bukan hanya urusan perut.
Dalam banyak kebudayaan, makan adalah bahasa sosial untuk menyatakan penerimaan.
Ketika warga Suku Bajo dan selebriti duduk dalam satu ruang makan terbuka, ada pesan yang terbaca jelas.
Pesannya adalah: kita bisa berbagi, tanpa harus menjadi sama.
Kuliner khas yang dinikmati di bibir pantai juga memanggil memori kolektif Indonesia sebagai bangsa maritim.
Kita hidup di kepulauan.
Namun, sering kali imajinasi kebangsaan lebih condong ke daratan, ke kota, ke pusat.
Momentum seperti ini menggeser sorotan, meski sebentar, ke pinggir pantai.
-000-
Mengaitkan dengan Isu Besar Indonesia
Isu ini bisa dikaitkan dengan tiga agenda besar Indonesia.
Pertama, penguatan identitas sebagai negara kepulauan.
Bibir pantai bukan hanya ruang wisata.
Ia adalah ruang hidup, ruang kerja, ruang ibadah, dan ruang tradisi bagi banyak komunitas.
Kedua, pemerataan perhatian terhadap wilayah di luar pusat-pusat ekonomi.
Sulawesi Tengah kerap hadir di berita nasional saat terjadi bencana atau konflik.
Konten budaya memberi narasi lain, yang lebih utuh dan manusiawi.
Ketiga, arah pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Indonesia sering mendorong destinasi dan kuliner lokal sebagai daya tarik.
Namun, pertanyaan etisnya tetap: siapa yang paling diuntungkan dari sorotan itu?
-000-
Riset yang Membantu Membaca Fenomena Ini
Untuk memahami kenapa konten seperti ini cepat menyebar, kita bisa memakai kacamata riset komunikasi.
Teori “parasocial interaction” menjelaskan mengapa publik merasa dekat dengan figur publik.
Kedekatan semu itu membuat tindakan sederhana selebriti, seperti makan bersama warga, terasa bermakna.
Riset lain tentang media dan pariwisata menunjukkan bahwa tayangan perjalanan membentuk “destination image”.
Citra destinasi bisa tercipta dari adegan singkat, terutama jika memadukan budaya, lanskap, dan keramahan.
Di sisi antropologi, ritual syukur seperti tari Doro menegaskan fungsi budaya sebagai perekat sosial.
Ritual mengubah peristiwa biasa menjadi peristiwa bermakna.
Ia memberi kerangka emosional, lalu kuliner menjadi perpanjangan dari rasa syukur itu.
-000-
Risiko Romantisasi dan Tantangan Representasi
Meski hangat, tren juga perlu dibaca secara kritis.
Ada risiko romantisasi, ketika komunitas pesisir hanya dilihat sebagai “unik” dan “eksotis”.
Romantisasi membuat penonton terpukau, tetapi lupa bertanya tentang keseharian warga.
Di sisi lain, representasi di media selalu punya batas.
Kamera memilih sudut, memilih adegan, memilih emosi.
Karena itu, penting menempatkan tayangan ini sebagai pintu masuk, bukan kesimpulan final tentang Suku Bajo.
Yang dibutuhkan adalah kelanjutan percakapan, bukan sekadar euforia sesaat.
-000-
Rujukan Kasus Serupa di Luar Negeri
Fenomena selebriti berinteraksi dengan komunitas lokal bukan hal baru di dunia.
Di banyak negara, program perjalanan kuliner sering mengangkat budaya pesisir dan masyarakat adat.
Contohnya terlihat pada sejumlah dokumenter kuliner global yang mempertemukan figur publik dengan komunitas lokal.
Respons publik biasanya serupa, yaitu rasa kagum, rasa ingin mencoba, dan dorongan berkunjung.
Namun, perdebatan yang mengikuti juga mirip.
Apakah sorotan media memperkuat posisi komunitas, atau justru mendorong komersialisasi yang tidak seimbang?
Pertanyaan itu relevan untuk Indonesia, tanpa harus menuduh apa pun pada tayangan ini.
Ia menjadi pengingat agar tren tidak berhenti pada konsumsi visual.
-000-
Makna “Syukur” yang Menyentuh Publik
Ada kata kunci yang menempel pada berita ini, yaitu syukur.
Tari Doro disebut sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kata syukur terasa seperti jeda.
Ia mengajak orang mengingat ulang hal-hal mendasar, yaitu kebersamaan, makanan, dan alam.
Syukur juga membuat perjumpaan itu tidak terasa seperti transaksi.
Ia terasa seperti perayaan kecil, yang bisa dimiliki siapa pun.
Mungkin di situlah letak daya magnetnya.
Publik tidak hanya melihat tempat.
Publik melihat suasana batin.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Tren yang sehat adalah tren yang memicu rasa ingin tahu sekaligus tanggung jawab.
Ada beberapa rekomendasi agar percakapan publik tidak berhenti di permukaan.
Pertama, jadikan tayangan ini sebagai pintu belajar.
Jika membahas Suku Bajo, gunakan bahasa yang menghormati.
Hindari stereotip, dan hindari menjadikan komunitas sebagai objek hiburan semata.
Kedua, dorong media untuk memberi ruang lanjutan.
Misalnya, cerita tentang pengetahuan lokal, tradisi, serta dinamika kehidupan pesisir yang lebih luas.
Dengan begitu, publik mendapat konteks, bukan hanya potongan momen.
Ketiga, jika tren memicu kunjungan wisata, utamakan etika.
Hormati ruang hidup warga, patuhi aturan setempat, dan pahami bahwa pantai bukan panggung, melainkan rumah.
Keempat, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pariwisata bisa membaca momentum ini.
Fokusnya bukan sekadar promosi, melainkan tata kelola yang melindungi budaya dan keberlanjutan lingkungan.
-000-
Penutup: Dari Makan Bersama ke Kesadaran Bersama
Berita tentang bersantap kuliner khas di Bibir Pantai Beta mungkin tampak sederhana.
Namun ia mengingatkan bahwa Indonesia dibangun dari perjumpaan-perjumpaan kecil.
Perjumpaan yang mengandung syukur, keramahan, dan kesediaan duduk setara.
Di tengah hiruk pikuk tren, momen ini bisa menjadi cermin.
Cermin tentang bagaimana kita memandang pinggiran, bagaimana kita memandang tradisi, dan bagaimana kita memandang sesama.
Jika percakapan publik berlanjut dengan hormat, tren ini tidak akan lewat begitu saja.
Ia bisa menjadi langkah kecil menuju perhatian yang lebih adil bagi Indonesia pesisir.
Seperti kutipan yang sering dinisbatkan pada Mahatma Gandhi: “Kebesaran suatu bangsa dan kemajuan moralnya dapat diukur dari cara memperlakukan hewan-hewannya.”
Dalam konteks ini, kita bisa meminjam semangatnya.
Kebesaran bangsa juga tercermin dari cara kita memperlakukan komunitas yang lama berada di tepi sorotan.

