Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia terus memperkuat komitmen pelestarian warisan tradisi Nusantara di berbagai wilayah. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengaitkan kekayaan budaya dengan sejarah seni kuliner daerah, sebagai upaya menjaga identitas tradisi lokal di tengah arus modernisasi.
Feby Pratitasari menekankan bahwa gastronomi tidak hanya berkaitan dengan cita rasa makanan, tetapi juga mencakup filosofi, sejarah, dan nilai budaya yang melekat di dalamnya. Ia menjelaskan, proyek Ngidang Betuah dihadirkan untuk mendokumentasikan sekaligus mendigitalisasikan resep tradisional Bengkulu yang dinilai mulai terancam punah.
Dalam penelusuran tersebut, berbagai pengetahuan kuliner masa lalu juga turut diangkat. Feby menyebut masyarakat pada masa sebelumnya memanfaatkan minyak kemiri sebagai pengganti minyak goreng alami. Menurutnya, resep warisan leluhur menyimpan memori dan nilai keilmuan yang penting untuk diteruskan kepada generasi muda.
Dokumentasi gastronomi ini menyasar empat wilayah perwakilan di Provinsi Bengkulu, yakni Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, dan Kota Bengkulu. Penyusunan resep dilakukan dengan melibatkan maestro kuliner lokal secara langsung untuk menjaga keautentikan. Salah satu hidangan yang berhasil didokumentasikan adalah Sambua Tepe dari Rejang Lebong.
Pembahasan mengenai upaya tersebut menjadi bagian dari Siaran Suara Budaya Nusantara edisi Rabu, 2 September 2026. Program ini disiarkan berjaringan oleh RRI Bengkulu dan RRI Jakarta pada pukul 13.00–14.00 WIB, dipandu Khamal sebagai host dari RRI Bengkulu dan Nova Calysta sebagai host dari RRI Jakarta.
Melalui Ngidang Betuah, kuliner tradisional Bengkulu diharapkan memperoleh ruang dokumentasi yang lebih aman dan berkelanjutan. Selain pendokumentasian, kehadiran karya literasi serta film dokumenter juga diharapkan dapat memperluas edukasi budaya bagi masyarakat, sekaligus menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menjaga warisan rasa Nusantara.