PRAFI, MANOKWARI—Pelatihan Produk Camilan Sehat bagi kader Posyandu digelar di Aula Puskesmas Prafi, Kamis, 3 September 2026. Kegiatan ini menekankan bahwa bahan pangan di sekitar rumah—seperti ikan, sayuran, dan umbi-umbian lokal—dapat diolah menjadi pilihan makanan bergizi sekaligus memiliki nilai tambah sebagai peluang usaha.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program SMART Kader Posyandu, yang berfokus pada penguatan kapasitas kader dan ekonomi keluarga, dengan pendampingan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga. Peserta mendapatkan materi gizi, promosi kesehatan, pengolahan pangan, praktik memasak, diskusi potensi bahan di kampung masing-masing, serta pemetaan produk yang ingin dikembangkan oleh kelompok.
Kepala Puskesmas Prafi, Ferdinan E. Woof, mengatakan kader memiliki modal penting karena dekat dengan masyarakat dan memahami kebutuhan keluarga. Ia berharap pelatihan ini menambah keterampilan kader agar dapat menjadi contoh dalam penyediaan pangan sehat, sekaligus mendorong kegiatan produktif bagi keluarga.
Ahli Gizi Puskesmas Prafi, Merry, menekankan bahwa produk yang layak dijual perlu tetap berangkat dari kebutuhan gizi konsumen. Ia mencontohkan ikan tanpa duri seperti tuna yang dapat dipadukan dengan wortel, tahu, betatas, atau tepung dari bahan lokal. Menurutnya, nilai jual penting, namun mutu gizi, kebersihan, kesegaran bahan, dan keamanan proses harus menjadi prioritas. Produk yang baik, kata dia, perlu sehat sekaligus disukai.
Dalam sesi praktik, peserta menyaksikan demonstrasi pembuatan sejumlah menu, antara lain rolade ikan, sempol Papua, Trimako Papua, trio sambal balado, dan candil ubi ungu. Para kader belajar menakar bahan, mengolah ikan agar tidak amis, membentuk adonan, mengukus, menggoreng, hingga menata hidangan. Hasil praktik kemudian dicicipi bersama untuk menilai rasa, tekstur, tampilan, serta peluang pengembangan.
Koordinator Program Promosi Kesehatan Puskesmas Prafi, Siti, menyoroti pentingnya “cerita” di balik produk. Ia menyampaikan bahwa saat kader menjual camilan sehat, mereka juga membawa pesan kesehatan. Karena itu, nama produk, tampilan, label, serta cara menjelaskan manfaatnya perlu dibuat sederhana agar mudah dipahami ibu, anak, dan calon pembeli.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga, Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes., memaparkan peta jalan pendampingan pada September hingga November 2026. Setelah pelatihan olahan sehat, kader akan diperkuat melalui pelatihan kemasan dan pelabelan, edutainment, kebun gizi, kerajinan souvenir, pemasaran digital, pencatatan biaya, serta persiapan pameran dan lomba produk. Ia menegaskan target pendampingan bukan sekadar satu kali praktik, melainkan mendorong kader memiliki produk yang jelas, kemasan yang layak, perhitungan usaha yang masuk akal, dan keberanian masuk pasar.
Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga terdiri atas Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes. sebagai ketua, bersama Sri Rahmawati, S.Psi., M.Si.; Surma Elisa Manihuruk, S.KM., M.Kes.; Anggun Anggifosari, S.I.Kom.; Imeldawati Tambunan, S.KM.; dan Widyasari Yuni Agustin, S.T.
Bagi peserta, pelatihan ini dinilai memunculkan keberanian untuk mencoba. Seorang kader menyampaikan bahwa mereka menjadi tahu bahan sederhana dapat diolah menjadi beberapa jenis camilan, dan dengan latihan resep serta kemasan yang baik, produk kader diyakini bisa diterima masyarakat. Anggota tim, Widyasari Yuni Agustin, menambahkan tahap selanjutnya adalah membantu kelompok menyusun proses kerja yang rapi, mulai dari standar ukuran, catatan biaya, hingga tampilan produk agar usaha dapat berjalan konsisten.
Pelatihan ini juga disebut mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan, antara lain SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui perluasan kesempatan perempuan kader meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan peran ekonomi; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui perintisan usaha mikro berbasis potensi lokal; serta SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pilihan bahan bergizi.
Ke depan, kelompok kader diharapkan mampu memilih produk unggulan yang realistis, memperoleh pendampingan terkait izin dan keamanan pangan, serta membangun pasar mulai dari lingkungan terdekat. Dengan dukungan Puskesmas, pemerintah kampung, dan mitra lainnya, produk kader Prafi ditargetkan berkembang menjadi usaha yang menambah pendapatan tanpa meninggalkan misi utama Posyandu, yakni menjaga kesehatan ibu, anak, dan keluarga.
Dalam pelatihan, beberapa menu yang dipraktikkan antara lain rolade ikan tuna—olahan tuna, telur, wortel, dan tepung tapioka yang dikukus lalu digoreng; trio sambal balado—olahan ikan dan tepung singkong yang dicetak, dikukus, digoreng, kemudian diberi bumbu balado; Trimako Papua—kudapan berlapis dari keladi, betatas, dan singkong dengan isian ikan serta tahu berbumbu; candil ubi ungu—kudapan manis dari ubi ungu dan tepung singkong dengan kuah santan; serta sempol Papua—olahan betatas kuning, ikan, wortel, kelapa, dan tepung singkong yang dibentuk pada batang serai lalu digoreng.