Sebuah program makan siang gratis bergizi di Jejuseo Middle School, Kota Jeju, Korea Selatan, menjadi bagian dari dukungan sekolah terhadap kesehatan siswa selama mengikuti kegiatan belajar. Program ini disebut berjalan seiring dengan penerapan kurikulum di sekolah tersebut, sekaligus mendukung visi sekolah: “Sekolah Bahagia di mana Pembelajaran Menyenangkan dan Menumbuhkan Karakter.”
Di sekolah ini, konsep “sekolah bahagia” diwujudkan antara lain melalui penyediaan makan siang gratis bergizi bagi seluruh siswa, serta pembiasaan disiplin positif saat sesi makan siang. Siswa dan guru makan bersama di kantin sekolah, namun guru membayar biaya makan setiap bulan.
Pelaksanaan makan siang di Jejuseo Middle School berbeda dengan praktik yang umum ditemui di sejumlah sekolah Indonesia. Jika banyak siswa di Indonesia membawa bekal dari rumah dengan variasi yang tidak selalu terkontrol gizinya, Jejuseo Middle School menyediakan makan siang gratis dengan takaran gizi yang diperhatikan dan diukur secara optimal.
Dalam catatan yang disampaikan, makan siang gratis untuk siswa dikaitkan dengan peningkatan prestasi, berupa pengurangan persentase siswa berprestasi rendah dan kenaikan skor standar. Peningkatan ini disebut memiliki korelasi langsung dengan intervensi nilai gizi pada menu makan siang.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, sekolah tidak menyediakan kios, kantin, atau toko yang menjual makanan, camilan, maupun minuman di lingkungan sekolah. Selain camilan yang mungkin dibawa siswa dari rumah, kantin sekolah menjadi sumber utama makan siang bagi siswa.
Dari sisi manajemen, pengaturan makan siang dibuat efisien mengingat jumlah siswa lebih dari 1.000 orang dan keterbatasan daya tampung kantin. Jam makan siang dibagi menjadi dua sesi: siswa kelas 1 beserta guru makan siang pada pukul 11:25–12:30, sementara siswa kelas 2 dan 3 beserta guru makan siang pada pukul 12:20–13:25.
Informasi terkait makan siang juga dipublikasikan secara rutin melalui website resmi sekolah. Pada menu “School News”, tersedia tiga sub-menu yang menjadi rujukan orang tua atau wali siswa untuk memantau gizi anak, yaitu “School lunch bulletin board”, “Livestock product information search for school meals”, dan “Diet”.
Pada bagian “School lunch bulletin board”, sekolah memuat ajakan penerapan disiplin positif dan kebiasaan makan berkelanjutan, termasuk imbauan mengonsumsi makanan seimbang tanpa menyisakan makanan. Siswa juga diarahkan untuk mengumpulkan sisa makanan dan mengikisnya hingga bersih menggunakan sendok agar peralatan lebih mudah dicuci, serta diminta memisahkan sendok dan sumpit dari tempat sampah.
Di bagian yang sama, sekolah menampilkan informasi bahan baku menu, label kandungan nutrisi, serta daftar alergi makanan. Siswa yang memiliki alergi diingatkan untuk memeriksa label dan tidak mengonsumsi produk yang berisiko. Daftar bahan dasar yang disebutkan antara lain susu, kacang tanah, kacang kedelai, gandum, ikan makarel, kepiting, udang, daging babi, buah persik, tomat, asam sulfat, kacang kenari, daging ayam, daging sapi, cumi-cumi, lobster, kerang, tiram, kentang, dan seledri.
Salah satu hal yang disebut menarik dalam program ini adalah penyediaan nurungji (sungnung), yakni kerak nasi dari bagian bawah belanga atau panci yang disediakan sebagai camilan. Informasi untuk siswa ditampilkan dengan ajakan, “Jangan ragu untuk mengambilnya dari meja distribusi di tengah.”
Sekolah juga menyiapkan perlakuan khusus bagi siswa yang sakit. Siswa dapat menghubungi wali kelas untuk diteruskan kepada pengelola makan siang agar disiapkan makanan khusus, misalnya bubur putih. Ketentuannya, siswa diminta memberi tahu wali kelas paling lambat pukul 09:00 agar makanan dapat disiapkan.