Harga dan kepraktisan masih menjadi tantangan bagi masyarakat dalam menerapkan pola makan bergizi seimbang. Dosen Program Studi Gizi Klinis Politeknik Negeri Lampung, Devi Elvina Rachma, S.Gz., M.Gz., menyebut makanan yang dinilai lebih sehat kerap dipersepsikan lebih mahal dibanding pilihan makanan praktis yang gizinya kurang seimbang.
Menurut Devi, kondisi tersebut mendorong sebagian orang memilih makanan yang mudah diperoleh, cepat dikonsumsi, dan sesuai kemampuan ekonomi. Ia mencontohkan makanan gorengan, makanan instan, serta makanan ultra-proses sebagai pilihan yang kerap dijangkau dalam aktivitas sehari-hari.
Meski begitu, Devi menekankan bahwa penerapan gizi seimbang tidak selalu harus bergantung pada bahan makanan mahal. Masyarakat dapat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar dengan harga yang relatif terjangkau.
Di Lampung, misalnya, ia menyebut makanan tradisional seperti seruit dapat menjadi contoh sajian yang memuat beberapa komponen gizi sekaligus, karena di dalamnya terdapat lauk, makanan pendamping, serta sayuran atau lalapan.
Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral, Devi juga menyarankan pemilihan sayur dan buah yang mudah diperoleh. Timun, tomat, pisang, hingga nanas dapat menjadi sumber zat gizi mikro yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Karena itu, ia menilai kesadaran mengenai gizi seimbang perlu berjalan seiring dengan pemanfaatan pangan lokal. Masyarakat tidak harus selalu membeli makanan mahal untuk memenuhi kebutuhan gizi, namun perlu lebih cermat mengombinasikan makanan yang tersedia agar asupan harian tetap seimbang.