BERITA TERKINI
Fenomena Teror Pocong Dinilai Dipicu Tren Media Sosial dan Aksi Imitasi Anak Muda

Fenomena Teror Pocong Dinilai Dipicu Tren Media Sosial dan Aksi Imitasi Anak Muda

SURABAYA — Fenomena “teror pocong” yang belakangan meresahkan masyarakat di sejumlah daerah dinilai lebih banyak dipicu tren media sosial dan aksi imitasi anak muda, ketimbang ancaman kriminal yang terorganisir.

Sosiolog Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menilai sebagian besar kasus yang terungkap berawal dari keinginan pelaku untuk mencari perhatian dan hiburan. Isu teror pocong sempat memicu ketakutan di berbagai daerah, namun belakangan menjadi sorotan setelah aparat kepolisian mengungkap sejumlah kasus yang ternyata dilakukan oleh kelompok anak muda untuk membuat konten media sosial.

Bagong menjelaskan, fenomena tersebut dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni sebagai modus tindak kriminal dan aksi iseng yang bertujuan mencari hiburan atau perhatian publik. “Tetapi apa pun motifnya, sosok pocong memiliki akar kultural yang kuat di masyarakat Indonesia sehingga menjadi sesuatu yang menarik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia mistis. Menurutnya, hal itu terlihat dari meningkatnya minat terhadap film-film horor dibandingkan genre remaja atau percintaan.

Bagong menilai keberanian menghadapi hal-hal yang dianggap menyeramkan kini menjadi bagian dari identitas sosial sebagian anak muda. Mereka yang berani sering kali dianggap memiliki nilai lebih dalam lingkungan pergaulan. Karena itu, sebagian remaja terdorong membuat konten yang berkaitan dengan unsur mistis, termasuk menggunakan kostum pocong untuk menarik perhatian publik.

“Saya melihat ini bagian dari aktivitas mencari pengakuan. Simbol bahwa mereka lebih berani sebagai anak muda. Kalau yang dilakukan anak-anak ini lebih untuk main-main,” katanya.