BERITA TERKINI
Dokter RSA UGM Bagikan Langkah Pencegahan dan Penanganan Nyeri Punggung Bawah

Dokter RSA UGM Bagikan Langkah Pencegahan dan Penanganan Nyeri Punggung Bawah

Perubahan pola kerja setelah pandemi Covid-19 disebut ikut mendorong meningkatnya kasus nyeri punggung bawah pada kelompok usia produktif, terutama 20–40 tahun. Kelompok ahli “Low Back Pain Collaborators” dalam jurnal The Lancet (2023) mencatat, nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP) telah memengaruhi 619 juta orang di seluruh dunia dan diperkirakan meningkat menjadi 843 juta kasus pada 2050.

Dokter spesialis Neurologi Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Yoga Rossi Widya Utama, Sp.N, mengatakan perubahan gaya hidup yang cenderung sedentari atau kurang aktif bergerak menjadi salah satu pemicu keluhan ini. Ia menyebut penyebab utama nyeri punggung bawah berkaitan dengan rendahnya intensitas olahraga atau kebiasaan berolahraga yang kurang tepat.

“Nyeri punggung ini disebabkan oleh posisi tubuh yang sama terus menerus, seperti duduk atau berdiri terus menerus. Apalagi ketika tubuh tidak banyak bergerak, terutama karena kurang olahraga,” kata Yoga, Selasa (20/1).

Menurut Yoga, peningkatan kasus pada usia produktif terjadi seiring perubahan pola kerja. Aktivitas yang padat di dalam ruangan, termasuk pertemuan daring, membuat pola hidup sedentari semakin umum di kalangan pekerja. Kondisi ini, kata dia, membuat otot, sendi, dan tulang punggung bawah lebih rentan mengalami nyeri.

Selain kurang bergerak, Yoga menyebut faktor lain yang dapat memicu nyeri punggung bawah adalah postur tubuh yang buruk dan menetap, gerakan berulang, duduk atau berdiri dalam waktu lama, serta aktivitas berat dengan teknik maupun posisi yang salah. Ia menjelaskan, keluhan dapat dipengaruhi jenis aktivitas yang dilakukan karena dampaknya bisa berbeda pada otot, sendi, atau tulang.

Yoga menambahkan, nyeri punggung bawah dapat menyerang otot, sendi, atau tulang tergantung bagian tubuh yang paling sering digunakan. Namun, keluhan yang paling sering muncul adalah pada otot punggung bawah, terutama akibat kebiasaan duduk lama.

Untuk mencegah keluhan sejak dini, Yoga menyarankan langkah sederhana seperti menjaga postur tubuh dan melakukan peregangan. Ia juga menganjurkan penggunaan kursi dan meja ergonomis yang mendukung lekuk alami tulang belakang.

Selain itu, ia menyarankan aktivitas fisik yang bisa dilakukan kapan saja, seperti berjalan kaki, latihan otot ringan, dan berenang. Aktivitas tersebut perlu dilakukan secara intens, rutin, serta dengan teknik yang tepat agar tidak membebani punggung bawah. Yoga juga mengingatkan pentingnya tidur nyenyak yang cukup dan memperhatikan asupan makanan sebagai fondasi kesehatan tubuh.

Gejala nyeri punggung bawah umumnya dapat dikenali dari nyeri tumpul atau tajam di area punggung bawah, kesulitan berdiri tegak atau duduk lama, hingga nyeri yang menjalar ke kaki. Jika gejala muncul, Yoga menganjurkan dua langkah awal, yaitu istirahat yang cukup dan mengompres punggung bawah dengan air hangat atau dingin.

Namun, ia mengingatkan bahwa istirahat terlalu lama justru dapat memperparah gejala, terutama jika kasur terlalu empuk sehingga tidak menjaga lekuk alami tulang. Bila keluhan belum membaik, pasien dapat mempertimbangkan obat pereda nyeri atau fisioterapi oleh terapis berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter.