Sidoarjo—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo menyatakan menemukan tiga jenis bakteri pada sampel makanan dan muntahan korban program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin. Tiga bakteri tersebut adalah Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.
Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo, dr Lahksmi Yuwantina, mengatakan temuan itu berdasarkan uji sampel yang dilakukan laboratorium Balai Besar Labkesmas Surabaya.
Menurut Pemkab Sidoarjo, keberadaan bakteri tersebut berkaitan dengan kasus keracunan massal yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam di Desa Putat serta sejumlah siswa di sekolah lain di sekitar wilayah Kecamatan Tanggulangin. Data terbaru yang disebutkan mencapai 700-an korban.
Melalui Satgas MBG Sidoarjo, Pemkab Sidoarjo telah menyerahkan seluruh data teknis hasil laboratorium kepada Polresta Sidoarjo. Kepolisian saat ini menyandingkan hasil uji klinis dari Pemkab dengan hasil pemeriksaan forensik untuk menentukan ada tidaknya unsur kelalaian atau kesengajaan. Hingga kini, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka karena penyelidikan masih berjalan.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi berupa pembekuan sementara (suspend) operasional dapur SPPG Kalitengah, Tanggulangin, yang menjadi pemasok menu MBG. BGN juga menonaktifkan Kepala SPPG setempat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas insiden yang disebut terkait kelalaian SOP.
Di lokasi dapur SPPG Kalitengah, aktivitas karyawan dilaporkan tidak terlihat. Warga sekitar menyebut sebelum kejadian keracunan massal, kegiatan di SPPG tersebut sangat sibuk, termasuk mobil distribusi yang lalu lalang mengantarkan menu MBG.
Berdasarkan data yang disebutkan, SPPG Kalitengah setiap hari mendistribusikan 2.800 menu MBG ke sejumlah pesantren dan sekolah di wilayah Kecamatan Tanggulangin.
Untuk kondisi korban dan pembiayaan medis, total terdampak gangguan pencernaan dilaporkan mencapai 748 anak dari pesantren dan 19 sekolah di sekitarnya. Jumlah ini meningkat dibanding data sebelumnya yang mencatat 566 orang.
Terkait biaya perawatan, Pemprov Jawa Timur dan Pemkab Sidoarjo berkoordinasi agar penanganan medis korban tetap terjamin sepenuhnya sambil menunggu pertanggungjawaban regulasi dari BGN Pusat. Perkembangan terakhir, kondisi mayoritas santri dan pelajar dilaporkan telah membaik dan sebagian besar sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.