Isu yang Membuatnya Tren
Nama Cathy Sharon mendadak ramai dibicarakan karena satu hal yang terasa dekat: daftar makanan favoritnya di Jakarta, dibagikan lewat unggahan TikTok.
Di tengah linimasa yang sering bising oleh konflik, daftar “comfort food” menawarkan jeda yang hangat. Orang berhenti sejenak, lalu bertanya, “Di mana itu?”
Konten semacam ini menjadi tren karena memadukan tiga daya tarik: rasa penasaran publik pada figur terkenal, peta kuliner yang bisa ditiru, dan emosi nostalgia.
-000-
Alasan pertama, daftar Cathy bersifat praktis. Ada lokasi, menu, dan kisaran harga, sehingga mudah dijadikan rencana makan, bukan sekadar hiburan.
Alasan kedua, format “top 10” memicu perbandingan. Warganet terdorong menilai, menyetujui, atau menyanggah, lalu membagikan versi mereka sendiri.
Alasan ketiga, kata “comfort food” menyentuh pengalaman personal. Makanan bukan hanya soal lapar, tetapi soal pulang, aman, dan ingatan yang menempel.
-000-
Tren ini juga lahir dari cara kerja platform video pendek. Konten rekomendasi kuliner mudah dipotong, diulang, dan disebarkan, sehingga cepat menjadi pembicaraan.
Namun di balik daftar yang tampak ringan, ada cerita Jakarta sebagai kota yang menampung banyak tradisi, kelas sosial, dan selera global.
Daftar Cathy seperti jendela kecil. Dari jendela itu, kita melihat bagaimana identitas kota terbentuk lewat piring, antrean, dan pilihan “yang selalu bikin kepikiran”.
-000-
Sepuluh Tempat, Sepuluh Cara Mengingat Jakarta
Nomor satu pilihan Cathy adalah nasi goreng kepiting dari Sinar Mandala di Wolter Monginsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ia menyebutnya favorit dari dulu sampai sekarang, bahkan masih sering ngidam. Porsinya besar, dengan estimasi harga Rp150.000 sampai Rp250.000.
Ketika seseorang menyebut “terenak”, yang bekerja bukan hanya lidah. Ada kesetiaan yang terbentuk dari pengalaman berulang, dari rasa yang konsisten.
-000-
Daftar kedua membawa kita ke Baku Sayang di Ciranjang. Cathy, berdarah Manado, menyebutnya representasi masakan warisan keluarga.
Ia mengaku “kalap” setiap makan atau pesan-antar. Favoritnya perkedel jagung dan ikan bakar dua rasa, dengan kisaran Rp35.000 sampai Rp75.000.
Di sini, kuliner berfungsi sebagai pengikat asal-usul. Jakarta menjadi tempat diaspora kecil bertahan, lewat resep yang menolak hilang.
-000-
Untuk sarapan atau teman ngopi, Cathy memilih Honey Brie Salt Bread dari Braud Cafe & Bakery di Senopati.
Ia menyebutnya salah satu salt bread terenak di Jakarta, karena kombinasi keju dan madu terasa pas. Estimasi Rp45.000 sampai Rp65.000 per buah.
Roti ini menandai selera kota yang bergerak cepat. Ada ruang bagi tren bakery modern, berdampingan dengan warung dan rumah makan legendaris.
-000-
Rendang dan daun ubi tumbuk dari Pagi Sore menjadi comfort food Cathy. Ia punya ritual wajib mampir sebelum pulang ke Prancis atau bepergian.
Pagi Sore punya banyak cabang di Jakarta, termasuk Tebet, Cilandak, dan PIK. Pilihan itu menunjukkan bagaimana “rasa rumah” sering dicari sebelum pergi.
Ritual makan sebelum perjalanan terdengar sederhana. Tetapi ia menegaskan satu hal: makanan bisa menjadi penutup cemas, semacam bekal emosional.
-000-
Cathy memuji pisang goreng madu dari Waras Warung Tradisional di Rawamangun, Jakarta Timur.
Ia menilai ukuran pisang dan kemanisannya pas, serta tetap crispy meski dipesan lewat aplikasi. Paket isi 18 buah sekitar Rp50.000.
Di sini, ada kisah tentang perubahan cara makan. Tradisi gorengan bertemu logistik digital, dan “renyah” menjadi standar baru layanan antar.
-000-
Untuk sate Padang, Cathy memilih Ajo Ramon, dengan cabang antara lain di area Pasar Santa dan Cikajang.
Ia punya cara makan khas: mencampur keripik singkong ke kuah, lalu dimakan bersama lontong dan sate. Estimasi Rp30.000 sampai Rp45.000.
Perpaduan itu menegaskan kreativitas konsumen. Makanan jalanan hidup karena orang bebas mengutak-atik, membuat kenikmatan versi pribadi.
-000-
Satu-satunya masakan Amerika di daftar ini adalah Smash Burger dan fries dari Dan’s Burgers di Prapanca Raya.
Cathy menyebut tempatnya kecil dan bukan ideal untuk nongkrong, tetapi rasanya sepadan. Ia menyarankan take away, dengan harga sekitar Rp114.000.
Jakarta sering memisahkan dua hal: tempat yang nyaman dan rasa yang dicari. Kota ini mengajari orang memilih, bahkan berkompromi.
-000-
Bakmi pangsit dari Mpek Tjoen di Panglima Polim juga masuk daftar. Cathy memesan mie versi tipis, pangsit goreng, dan bakso.
Untuk minuman, ia memilih es jeruk Kalimantan. Estimasi harga sekitar Rp55.000.
Bakmi seperti bahasa sehari-hari warga kota. Ia mudah ditemukan, tetapi tiap tempat punya dialek rasa, dan orang mengingatnya dengan detail kecil.
-000-
Untuk “protein loading” ala steak Amerika, Cathy menyebut Ruth’s Chris Steak House di Ciputra World, Kuningan.
Ia menyukai American steak cuts, dengan crab cakes segar sebagai andalan. Estimasi steak Rp500.000 sampai Rp900.000, crab cakes Rp150.000 sampai Rp220.000.
Pilihan ini memperlihatkan spektrum Jakarta. Dalam satu daftar yang sama, ada gorengan paket dan steak ratusan ribu, berdampingan tanpa rasa canggung.
-000-
Penutupnya adalah bakso dari Bakso Wahid di Menteng. Cathy menyukai kuahnya dan menyebutnya “versi bakso sehat” tanpa bahan pengawet.
Harga sekitar Rp30.000 sampai Rp40.000 per porsi, dengan pilihan bakso halus dan bakso urat.
Bakso menjadi penanda yang egaliter. Ia bisa menjadi makan siang cepat, penghangat sore, atau penghibur saat hari terasa terlalu panjang.
-000-
Mengapa Daftar Ini Menyentuh Banyak Orang
Di permukaan, ini sekadar rekomendasi kuliner selebritas. Tetapi respons publik menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: orang mencari pegangan yang akrab.
Jakarta adalah kota yang bergerak cepat. Dalam ritme seperti itu, “makanan yang selalu bikin kepikiran” terasa seperti jangkar kecil.
Daftar Cathy juga menghadirkan ilusi kedekatan. Publik merasa ikut berjalan di rute yang sama, duduk di meja yang sama, mencicipi rasa yang sama.
-000-
Ada pula efek sosial yang halus. Ketika orang menyebut tempat makan favorit, mereka sebenarnya sedang menyatakan identitas.
“Saya anak nasi Padang,” “saya tim bakmi tipis,” atau “saya suka sate Padang pakai keripik.” Semua itu adalah cara berkata, “Ini saya.”
Itulah sebabnya daftar semacam ini mudah viral. Ia mengundang orang membalas dengan cerita, bukan sekadar komentar.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Kota, Ketimpangan, dan Ekonomi Kreatif
Daftar ini menyinggung isu besar yang sering kita hindari: ketimpangan akses dan daya beli di kota-kota besar, terutama Jakarta.
Dalam satu rangkaian, ada menu Rp30.000 hingga Rp900.000. Itu bukan salah siapa pun, tetapi cermin realitas kelas di ruang makan.
Kuliner menjadi peta ketimpangan yang paling mudah terlihat. Kita bisa menyebutnya “selera”, padahal di belakangnya ada kemampuan ekonomi.
-000-
Namun ada sisi lain yang penting. Kuliner adalah bagian dari ekonomi kreatif, yang menumbuhkan lapangan kerja, rantai pasok, dan inovasi produk.
Daftar Cathy memperlihatkan ekosistem itu. Ada restoran legendaris, rumah makan daerah, bakery modern, hingga gerai burger kecil yang mengandalkan take away.
Ketika rekomendasi viral, dampaknya bisa nyata. Arus pelanggan berubah, antrean bertambah, dan usaha kecil bisa mendapat momentum yang sulit dibeli iklan.
-000-
Di saat yang sama, viralitas juga membawa risiko. Tekanan permintaan bisa menguji konsistensi rasa, kualitas layanan, dan kemampuan menjaga harga tetap wajar.
Jakarta, sebagai pusat tren, sering menjadi laboratorium. Apa yang laku di sini cepat ditiru kota lain, lalu membentuk selera nasional.
Karena itu, tren kuliner bukan sekadar gaya hidup. Ia ikut menentukan arah produksi pangan, preferensi konsumen, dan cara usaha kuliner bertahan.
-000-
Kerangka Riset: Mengapa “Comfort Food” Begitu Kuat
Dalam kajian psikologi dan perilaku konsumen, makanan sering dipahami sebagai pemicu memori dan pengatur emosi.
Konsep “comfort food” kerap dikaitkan dengan nostalgia, rasa aman, dan kebutuhan akan kedekatan sosial, terutama saat seseorang lelah atau tertekan.
Itu menjelaskan mengapa Cathy menautkan Pagi Sore dengan ritual sebelum bepergian. Perjalanan memicu ketidakpastian, lalu makanan memberi sensasi kendali.
-000-
Riset pemasaran juga menunjukkan rekomendasi personal lebih dipercaya daripada iklan formal, karena dianggap lahir dari pengalaman.
Daftar Cathy bekerja sebagai narasi pengalaman. Ia tidak hanya menyebut nama tempat, tetapi memberi alasan, kebiasaan, dan detail cara makan.
Detail kecil seperti mencampur keripik singkong ke kuah sate Padang membuat cerita terasa nyata. Keaslian seperti ini yang dicari publik digital.
-000-
Di sisi lain, studi tentang kota global menyoroti bagaimana makanan menjadi simbol kosmopolitanisme.
Dalam satu kota, orang bisa makan rendang, bakmi, steak, dan burger. Keragaman itu menegaskan Jakarta sebagai ruang pertemuan budaya.
Daftar ini, tanpa bermaksud menggurui, mengilustrasikan teori tersebut. Piring makan adalah peta migrasi, perdagangan, dan pergaulan.
-000-
Referensi Serupa di Luar Negeri
Fenomena daftar makanan selebritas yang viral bukan hanya terjadi di Indonesia. Di banyak negara, rekomendasi figur publik sering memicu gelombang kunjungan.
Di Amerika Serikat, misalnya, daftar “favorite spots” dari tokoh hiburan kerap memicu antrean baru, terutama ketika dibagikan lewat platform video pendek.
Di Korea Selatan, efek rekomendasi publik figur juga dikenal kuat. Satu menu yang disebut dalam konten populer dapat mengangkat penjualan dan membuat tempat kecil kewalahan.
-000-
Kesamaannya ada pada pola: publik menyukai rute yang bisa diikuti, dan pelaku usaha mendapat sorotan mendadak.
Perbedaannya biasanya ada pada kesiapan ekosistem, dari sistem reservasi, manajemen antrean, hingga perlindungan pekerja kuliner saat permintaan melonjak.
Pelajaran pentingnya sederhana. Viralitas adalah angin, bukan fondasi. Usaha tetap memerlukan kualitas, tata kelola, dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik sebaiknya menikmati tren ini dengan sadar. Rekomendasi bisa menjadi panduan, tetapi selera tetap pengalaman personal yang tidak perlu dipaksakan.
Kedua, warganet perlu menjaga etika ulasan. Memuji boleh, mengkritik juga boleh, tetapi hindari perundungan terhadap pelaku usaha ketika ekspektasi tidak terpenuhi.
Ketiga, konsumen bisa membantu keberlanjutan usaha dengan sikap sederhana: antre tertib, menghargai pekerja, dan memahami bahwa tempat kecil punya kapasitas terbatas.
-000-
Bagi pelaku usaha, tren semacam ini bisa dijadikan momentum memperkuat standar dapur dan layanan.
Jika permintaan naik, konsistensi rasa dan kebersihan menjadi penentu reputasi jangka panjang. Viralitas hanya membuka pintu, tetapi kualitas yang membuat orang kembali.
Bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan, percakapan kuliner dapat diarahkan ke isu yang lebih besar.
Misalnya, pembinaan UMKM kuliner, keamanan pangan, dan dukungan ekosistem digital yang adil bagi pedagang kecil.
-000-
Daftar Cathy Sharon pada akhirnya adalah kisah tentang kota dan manusia. Tentang bagaimana kita menambatkan diri pada rasa, ketika hari-hari berubah cepat.
Jakarta mungkin sering terasa melelahkan. Tetapi di sela kemacetan dan jadwal padat, masih ada semangkuk bakso, sepiring nasi goreng, atau sepotong roti asin manis.
Dan mungkin, di situlah kekuatan kuliner. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu besar, kadang hanya perlu ditemukan, lalu diulang.
-000-
“Kita tidak selalu bisa memilih cuaca hidup, tetapi kita bisa memilih cara menghangatkan diri.”