BERITA TERKINI
Cuaca Panas Tingkatkan Risiko Dehidrasi, Ahli Gizi Anjurkan Minum Sebelum Haus

Cuaca Panas Tingkatkan Risiko Dehidrasi, Ahli Gizi Anjurkan Minum Sebelum Haus

JAKARTA — Cuaca panas selama musim kemarau dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama bagi orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Rasa haus pun bisa muncul ketika tubuh sudah mulai kehilangan cairan.

Dietisien Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Fitri Hudayani, menjelaskan bahwa tubuh kehilangan cairan melalui keringat dan penguapan lewat saluran pernapasan saat cuaca panas.

“Kita akan merasa haus jika tubuh kita mulai kehilangan 1-2 persen cairan dan orang bisa mulai dehidrasi ringan saat belum mulai terasa haus,” kata Fitri di Jakarta, Senin.

Fitri yang juga Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dietisien Indonesia menyebut kebutuhan cairan harian sekitar dua hingga 2,5 liter atau setara delapan sampai 10 gelas. Namun, saat cuaca panas dan tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat, asupan cairan sebaiknya ditambah sekitar 0,5 hingga satu liter dari biasanya.

Ia menambahkan, cairan tidak hanya diperoleh dari air putih, tetapi juga dari buah-buahan yang berair, kuah sayuran, serta makanan lain yang mengandung air.

Fitri mengimbau masyarakat untuk minum secara berkala tanpa menunggu haus, terutama bagi mereka yang beraktivitas cukup lama di luar ruangan. “Jika sedang beraktivitas di luar dapat lebih sering minum, misal 15-20 menit minum satu gelas air atau 250 cc,” ujarnya.

Selain air putih, kopi, teh, atau minuman berenergi juga dapat menjadi pilihan untuk menambah asupan cairan. Meski demikian, ia mengingatkan konsumsi minuman dengan kandungan gula tinggi sebaiknya dibatasi agar tidak memicu masalah kesehatan lain.

Menurut Fitri, buah-buahan juga dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan dan mineral tubuh. Di sisi lain, asupan makanan bergizi tetap diperlukan untuk menjaga kebutuhan energi selama cuaca panas. “Konsumsi makanan bergizi untuk memenuhi kebutuhan energi juga sangat penting,” katanya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan musim kemarau 2026 di Indonesia cenderung lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. BMKG memprakirakan musim hujan mulai datang secara bertahap pada pertengahan Oktober 2026 di Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung, sementara Banten dan Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada awal November 2026.