BERITA TERKINI
Croissant Pattaya Viral di Media Sosial dan Sorotan soal Objektifikasi Tubuh Perempuan

Croissant Pattaya Viral di Media Sosial dan Sorotan soal Objektifikasi Tubuh Perempuan

Tren croissant beberapa bulan terakhir berkembang dengan berbagai inovasi rasa dan bentuk di toko roti maupun kafe. Namun, media sosial belakangan diramaikan kemunculan Mor Oi Croissant yang juga disebut Hairy Croissant atau Croissant Pattaya, pastry asal Thailand yang tampil jauh dari gambaran croissant pada umumnya.

Pastry ini memiliki permukaan diselimuti serat berwarna hitam yang menyerupai rambut (Fat Choy). Nama “Mor Oi” kerap disebut sebagai istilah yang merujuk pada rambut vagina dalam bahasa Thailand. Tak butuh waktu lama, makanan tersebut menjadi konten yang bertebaran di berbagai platform, diulas oleh influencer kuliner, food vlogger, hingga kreator konten. Ada yang penasaran dengan cita rasa, ada pula yang ingin membuktikan apakah tampilannya benar-benar mirip seperti yang beredar di internet, bahkan ada yang membuat ulang karena sedang viral.

Potongan video yang menampilkan tekstur serat hitamnya dengan mudah menarik perhatian penonton dan memicu ribuan komentar. Respons publik pun beragam: sebagian menilai tidak etis membandingkan makanan dengan rambut vagina perempuan, sementara sebagian lain menjadikannya bahan candaan atau rasa penasaran.

Jika dicermati, fenomena ini dinilai tidak semata soal tren makanan, melainkan memperlihatkan bagaimana ruang digital dapat menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan humor. Sejumlah komentar tidak lagi berfokus pada rasa atau kualitas kuliner, tetapi mengarah pada candaan seksis yang merujuk pada tubuh perempuan.

Dalam wacana sosiologi dan budaya populer, mengonotasikan makanan sebagai tubuh perempuan dipahami sebagai metafora erotis, objek komodifikasi di media, atau stereotip budaya. Konotasi semacam itu dipandang mereduksi perempuan menjadi objek yang “bisa dinikmati” atau “dikonsumsi”. Fenomena serupa juga pernah muncul pada makanan lain, misalnya kue tart yang dikaitkan dengan “manis” seperti wajah perempuan, atau semangka dan pepaya yang dimetaforakan sebagai lekuk tubuh perempuan.

Humor semacam ini kerap dianggap ringan dengan dalih “sekadar bercanda”. Namun, di baliknya terdapat cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai objek guyonan. Seksisme dalam humor bukan hal baru, dan candaan yang menyasar tubuh perempuan kerap dinormalisasi di ruang digital. Ketika sebuah objek dianggap menyerupai bagian tubuh tertentu, imej tentang tubuh perempuan sering kali menjadi rujukan utama, sehingga tubuh perempuan tidak lagi dilihat sebagai bagian dari identitas, melainkan simbol yang bebas dipakai untuk memancing tawa dan mendorong viralitas.

Fenomena ini juga dikaitkan dengan mekanisme kapitalisme digital yang mengubah tubuh menjadi komoditas, sementara perhatian pengguna dapat berujung pada keuntungan. Dalam berbagai konten dan iklan media sosial, sensualitas kerap ditampilkan melalui adegan perempuan memakan produk secara sensual, cairan makanan yang tumpah ke area dada, atau sudut kamera yang sengaja menyorot bagian tubuh tertentu.

Komodifikasi tubuh perempuan merujuk pada proses ketika tubuh atau bagian tubuh perempuan diperlakukan sebagai komoditas yang memiliki nilai tukar di pasar. Dalam konteks media sosial, tubuh perempuan tidak hanya direpresentasikan, tetapi diproduksi, dikemas, dan diedarkan untuk menarik perhatian, meningkatkan keterlibatan (engagement), hingga menghasilkan keuntungan ekonomi. Tubuh tidak sekadar menjadi alat menjual produk, melainkan juga dapat diperlakukan sebagai “produk” itu sendiri. Sensualitas yang ditampilkan dinilai tidak netral karena dirancang untuk memicu respons seperti hasrat, ketertarikan, atau fantasi yang kemudian dilekatkan pada produk, meski tidak selalu memiliki hubungan logis.

Perspektif feminisme disebut memberi kerangka untuk membaca fenomena ini. Dalam pemikiran Martha Nussbaum, objektifikasi terjadi ketika seseorang diperlakukan sebagai alat untuk tujuan orang lain, kehilangan otonomi, dan direduksi menjadi tubuh semata. Tren ini juga memperlihatkan bagaimana seksualisasi dapat bekerja melalui hal yang tidak terkait ranah seksual, seperti makanan—mulai dari penamaan produk, visual, hingga cara konten dikemas—sehingga makanan tidak lagi dipahami semata sebagai kuliner, melainkan medium yang diasosiasikan secara seksual.

Strategi tersebut dinilai mudah menarik perhatian pengguna media sosial, terlebih dengan sistem algoritma yang cenderung mendorong konten berpotensi viral. Namun, dampak lainnya adalah risiko melanggengkan seksisme, menormalisasi sensasionalisme, pelecehan seksual, dan objektifikasi tubuh perempuan. Ketika ribuan komentar menghubungkan makanan dengan alat vital, tubuh perempuan kembali dijadikan rujukan untuk membangun sensasi, bukan diposisikan sebagai subjek yang utuh.

Viralitas Hairy Croissant juga menunjukkan cara budaya digital bekerja melalui mekanisme imitasi. Tren tidak berhenti pada satu unggahan; konten yang dianggap menarik cepat ditiru, dimodifikasi, dan dipublikasikan ulang. Setelah video ulasan bermunculan, sejumlah kreator disebut mulai membuat konten serupa dengan makanan lain yang memiliki bentuk atau tampilan mirip. Fokusnya bergeser dari inovasi rasa menuju kemampuan memancing respons yang dianggap lucu. Pengulangan format ini berpotensi membuat pola humor tersebut diterima sebagai hal biasa.

Dalam konteks itu, fenomena ini dipandang menjadi perpanjangan praktik objektifikasi terhadap perempuan, bukan hanya secara verbal, tetapi juga melalui penggunaan tubuh perempuan sebagai simbol untuk membangun humor, viralitas, dan komodifikasi. Selama pola tersebut terus menghasilkan engagement, objektifikasi dinilai akan terus berubah bentuk dengan kemasan baru, meski berangkat dari logika lama.

Pada akhirnya, viralitas memang menjanjikan perhatian. Namun, ketika perhatian dibangun dengan mengorbankan tubuh perempuan sebagai bahan humor, muncul pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan: algoritma memperoleh interaksi, kreator mendapatkan pengikut, sementara tubuh perempuan kembali diperlakukan sebagai alat pembentuk tawa dan nilai ekonomi dalam ekosistem digital.