BERITA TERKINI
Apem Bugis di Medan: Rasa Hangat Perantauan, Jejak Identitas, dan Percakapan Baru tentang Indonesia

Apem Bugis di Medan: Rasa Hangat Perantauan, Jejak Identitas, dan Percakapan Baru tentang Indonesia

Isu yang membuat berita ini menjadi tren sederhana, namun kuat.

Orang menemukan kue apem atau apang khas Bugis Sulawesi Selatan, ternyata hadir di Kota Medan.

Di tengah banjir kabar politik dan ekonomi, kisah makanan lintas pulau terasa seperti jeda yang menenangkan.

Namun jeda itu bukan pelarian.

Ia justru membuka pertanyaan besar tentang perpindahan, identitas, dan cara Indonesia menyimpan ingatan lewat rasa.

-000-

Mengapa Apem Bugis di Medan Mendadak Jadi Perbincangan

Tren sering lahir dari hal yang dekat dengan keseharian.

Apem Bugis di Medan menyentuh sesuatu yang akrab, yaitu rasa penasaran warga pada kuliner yang tidak mereka duga ada.

Di Jalan Setia Budi, kue itu dijajakan di tepi jalan, mudah terlihat, dan mudah dibeli.

Kedekatan lokasi membuat cerita cepat menyebar dari mulut ke mulut.

Alasan pertama, ada unsur kejutan geografis.

Kue tradisional Bugis dan Makassar dari Sulawesi Selatan muncul di kota besar Sumatera Utara.

Kontras asal dan lokasi memantik rasa ingin tahu.

Alasan kedua, ada daya tarik pengalaman baru yang murah.

Menurut Toni, satu porsi berisi 10 potong seharga Rp 20.000.

Setengah porsi 5 potong seharga Rp 10.000.

Harga membuat orang berani mencoba tanpa rasa bersalah.

Alasan ketiga, ada cerita manusia yang mudah diikuti.

Toni menjelaskan bahan dan cara membuatnya.

Ratna menceritakan rasa penasaran, lalu memberi penilaian setelah mencicipi.

Kombinasi penjual dan pembeli menciptakan narasi lengkap, sederhana, dan terasa jujur.

-000-

Dari Wadah Kukus ke Ingatan Kolektif

Apem atau apang dibuat dari tepung beras, tepung terigu, santan, dan gula merah.

Menurut Toni, adonan dikukus beberapa menit di wadah yang disiapkan.

Bentuknya bulat lonjong atau kerucut.

Teksturnya kenyal, rasanya manis legit, dan paling nikmat saat panas atau hangat.

Detail ini penting.

Makanan tradisional bukan hanya daftar bahan, melainkan pengetahuan praktis yang diwariskan lewat kebiasaan.

Ketika Toni menyebut proses kukus, ia sedang menyebut disiplin kerja harian.

Ia juga menyebut keberlanjutan.

Karena kue itu dibuat setiap hari, tradisi tidak dibiarkan menjadi pajangan musiman.

Ratna menambahkan lapisan lain.

Ia membeli karena penasaran, lalu menyebut rasa perpaduan tepung dan gula merah.

Ia juga menyebut pilihan rasa gula merah atau pandan.

Di titik itu, kuliner menjadi ruang pertemuan.

Yang datang bukan hanya untuk kenyang, tetapi untuk menegaskan bahwa perbedaan dapat dicicipi tanpa perlu diperdebatkan.

-000-

Medan sebagai Panggung Perjumpaan

Medan lama dikenal sebagai kota pertemuan.

Di kota besar, orang datang dengan cerita, bahasa, dan resep yang berbeda.

Berita ini menunjukkan satu fragmen kecil dari dinamika itu.

Apem Bugis hadir bukan sebagai barang asing.

Ia hadir sebagai bagian dari kehidupan jalanan, dijual di tepi jalan, dilihat pengendara, lalu dibawa pulang.

Lokasi yang disebut Ratna, Jalan Setia Budi, memberi kesan keseharian.

Bukan festival, bukan pameran, bukan acara seremonial.

Justru karena itu, ceritanya terasa dekat.

Dalam keseharian, identitas bekerja paling halus.

Ia tidak berteriak, tetapi menetap.

Ia masuk lewat sarapan, lewat camilan hangat, lewat obrolan singkat dengan penjual.

-000-

Isu Besar yang Mengintai di Balik Seporsi Apem

Kisah ini tampak kecil, tetapi ia menempel pada isu besar Indonesia.

Pertama, soal mobilitas penduduk dan perantauan.

Ketika kuliner Sulawesi Selatan ada di Medan, ada jejak perpindahan manusia di belakangnya.

Berita tidak merinci siapa yang merantau.

Namun kehadiran resep di kota lain sering menjadi penanda bahwa ada komunitas, jaringan, atau setidaknya permintaan.

Kedua, soal ketahanan budaya di ruang urban.

Kota besar cenderung menstandarkan selera.

Namun apem Bugis bertahan dengan tekstur kenyal dan rasa manis legitnya, tanpa harus menjadi produk modern yang kehilangan bentuk.

Ketiga, soal ekonomi mikro.

Harga Rp 10.000 hingga Rp 20.000 menempatkan apem sebagai pangan terjangkau.

Di tengah tekanan biaya hidup, makanan murah yang memuaskan sering menjadi penyangga emosi sekaligus dompet.

-000-

Mengapa Cerita Kuliner Bisa Menggugah Emosi

Karena makanan menyimpan memori.

Ia mengikat orang pada rumah, pada kampung, pada masa kecil, atau pada perjalanan.

Apem yang enak saat hangat mengingatkan bahwa kehangatan juga kata sosial.

Hangat berarti baru matang.

Hangat juga berarti ada yang menyambut.

Dalam berita ini, Ratna menyebut membeli pengalaman baru.

Kalimat itu menyiratkan sesuatu yang halus.

Bahwa mencicipi makanan dari daerah lain adalah bentuk kecil dari keberanian membuka diri.

Dan di Indonesia, membuka diri sering lebih mudah dimulai dari meja makan.

-000-

Riset yang Relevan: Kuliner sebagai Identitas dan Jembatan Sosial

Riset ilmu sosial kerap menempatkan makanan sebagai penanda identitas.

Di banyak kajian antropologi, makanan dipahami sebagai bagian dari budaya sehari-hari yang membentuk rasa kebersamaan.

Kerangka ini membantu membaca apem Bugis di Medan.

Ia bukan sekadar komoditas, tetapi simbol yang bisa memindahkan “rumah” ke tempat baru.

Ada juga konsep tentang bagaimana tradisi bertahan lewat praktik berulang.

Ketika Toni menyebut apem dibuat setiap hari, itu sejalan dengan gagasan bahwa budaya hidup karena dikerjakan.

Bukan karena diingat saja.

Dalam studi tentang kota dan migrasi, kuliner sering menjadi pintu masuk ekonomi.

Warung kecil dan jajanan jalanan memberi ruang bagi kerja, jejaring, dan pertemuan lintas latar.

Berita ini tidak memaparkan struktur bisnisnya.

Namun dari informasi harga dan porsi, terlihat ada upaya menjaga aksesibilitas.

Itu strategi yang lazim pada ekonomi pangan harian.

-000-

Rujukan dari Luar Negeri: Jejak Rasa yang Menyeberang Benua

Fenomena makanan tradisional berpindah kota dan negara bukan hal baru.

Di banyak negara, komunitas perantau membawa resep sebagai cara mempertahankan identitas.

Contoh yang sering dibahas adalah bagaimana makanan Meksiko berkembang di Amerika Serikat.

Ia hadir dari migrasi, lalu menjadi bagian dari keseharian kota-kota besar.

Ada pula kisah makanan India yang menyebar luas di Inggris.

Di sana, restoran dan jajanan menjadi ruang pertemuan budaya, sekaligus memunculkan adaptasi rasa.

Perbandingan ini tidak menyamakan konteks.

Namun ia menunjukkan pola umum, bahwa makanan bergerak mengikuti manusia.

Dan ketika ia diterima, yang terjadi bukan hanya transaksi.

Yang terjadi adalah negosiasi identitas di ruang publik.

-000-

Analisis: Antara Autentisitas dan Akses

Perbincangan kuliner sering berhenti pada pertanyaan, “asli atau tidak.”

Berita ini tidak mengangkat debat itu.

Namun ia memberi petunjuk tentang apa yang dicari pembeli.

Ratna menilai rasa “lumayan enak” dan merekomendasikan untuk dicoba.

Ia memuji harga yang terjangkau.

Ia juga menekankan pengalaman baru.

Dari sini terlihat, akses dan rasa cukup untuk membuat orang merasa terhubung.

Autentisitas, dalam praktik sehari-hari, sering berarti konsistensi.

Apem yang kenyal, manis legit, dan hangat, sudah memenuhi bayangan banyak orang tentang jajanan tradisional yang “benar.”

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, perlakukan cerita ini sebagai kesempatan memperluas literasi budaya.

Masyarakat bisa mengenali bahwa Indonesia bukan satu rasa.

Ia kumpulan rasa yang saling menguatkan.

Kedua, jaga ruang bagi pelaku usaha kecil.

Jika jajanan tradisional mudah ditemukan di tepi jalan, itu menandakan ekonomi rakyat bekerja.

Respons yang sehat adalah mendukung keteraturan, kebersihan, dan keamanan pangan.

Tanpa mematikan usaha dengan beban yang tidak proporsional.

Ketiga, dorong percakapan yang tidak merendahkan tradisi.

Kuliner daerah sering diperlakukan sebagai konten lucu atau sekadar tren sesaat.

Padahal di baliknya ada kerja, pengetahuan, dan martabat.

Keempat, bagi pembaca yang penasaran, datanglah dengan sikap hormat.

Bertanya bahan dan proses seperti yang dijelaskan Toni.

Mendengar cerita penjual sering sama berharganya dengan rasa manis gula merah.

-000-

Penutup: Sepotong Apem dan Pelajaran tentang Indonesia

Berita apem Bugis di Medan mengajarkan sesuatu yang sering luput.

Bahwa persatuan tidak selalu lahir dari slogan besar.

Ia bisa lahir dari hal kecil yang dipegang tangan, masih mengepul, dan dibagi dalam percakapan singkat.

Ketika Ratna berkata membeli pengalaman baru, ia sedang menyebut inti Indonesia.

Keberagaman yang tidak harus mengancam, karena bisa dinikmati bersama.

Di masa ketika banyak hal memecah perhatian dan emosi, kisah ini mengingatkan cara lain untuk saling memahami.

Lewat rasa, lewat keterbukaan, dan lewat hormat pada kerja orang lain.

Seperti sebuah kutipan yang kerap diingat banyak orang, “Kita tidak bisa memilih dari mana kita berasal, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita saling memperlakukan.”