Memasuki pertengahan 2026, Anggur Kolesom kembali menjadi perhatian di industri minuman Nusantara. Produk yang disebut telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia sejak 1948 itu kini mencuat lagi, didorong inovasi varian premium sekaligus fenomena viral di media sosial yang memicu perdebatan.
Dalam upaya menyesuaikan diri dengan selera pasar masa kini, Anggur Kolesom Premium hadir dengan kemasan yang lebih mewah, termasuk botol berdesain emboss. Varian ini menonjolkan keberadaan ginseng asli di dalam setiap botolnya, yang diklaim mampu meningkatkan stamina, membantu melancarkan aliran darah, serta mendukung relaksasi bila dikonsumsi dengan takaran yang benar.
Seiring pembaruan produk, Anggur Kolesom juga mulai masuk ke segmen gaya hidup kelas atas melalui kolaborasi dengan sejumlah restoran, di antaranya Haidilao Hotpot dan Oma Elly. Di Oma Elly, minuman ini bahkan digunakan sebagai bahan masakan untuk menu Seared Duck Breast, yang disebut menghadirkan harmoni rasa antara masakan Italia dan rempah tradisional Indonesia.
Namun, meningkatnya popularitas turut diikuti isu dan kontroversi. Media sosial belakangan diramaikan video viral yang menampilkan penjual “Kolesom Jumbo” di area publik. Satpol PP Jakarta Selatan mengklarifikasi bahwa video tersebut merupakan konten kreatif dan bukan penjualan nyata di lokasi itu. Meski demikian, fenomena ini menarik perhatian LPPOM MUI.
Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, menyampaikan peringatan terkait kandungan alkohol pada minuman sejenis yang disebut mencapai 19,7 persen. Mengacu pada Fatwa MUI Nomor 10 Tahun 2018, minuman dengan kadar alkohol di atas 0,5 persen masuk kategori khamr yang hukumnya haram dan najis menurut syariat Islam. LPPOM juga menekankan bahwa klaim manfaat kesehatan maupun popularitas di media sosial tidak dapat dijadikan tolok ukur kehalalan suatu produk.
Di balik nama minumannya, kolesom juga merujuk pada tanaman Kolesom Jawa atau Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Tanaman ini disebut berasal dari wilayah selatan Amerika Serikat dan Amerika Latin, namun kini banyak ditemukan di Asia. Selain dikenal sebagai tanaman hias, akar kolesom secara tradisional dimanfaatkan sebagai obat penambah vitalitas dan kebugaran. Disebut pula bahwa penelitian menunjukkan ekstrak daun som jawa memiliki aktivitas biologi sebagai antibakteri dan antiinflamasi.
Meski kerap dikaitkan dengan stamina, konsumsi Anggur Kolesom tetap perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Sebagai minuman beralkohol, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek jangka pendek seperti pusing, mual, gangguan pencernaan, hingga insomnia. Untuk jangka panjang, terdapat risiko yang lebih serius, antara lain kerusakan hati (sirosis), gangguan irama jantung, serta ketergantungan fisik dan psikologis. Kelompok lansia juga disebut perlu lebih berhati-hati karena metabolisme yang lebih lambat dan potensi interaksi obat.
Dalam informasi yang beredar, dosis yang umumnya disebut untuk meminimalkan risiko adalah sekitar 20–40 mililiter sebanyak tiga kali sehari, serta disarankan dikonsumsi setelah makan untuk mengurangi iritasi lambung.
Dari sisi pasar, data per Juli 2026 menunjukkan rata-rata harga Anggur Kolesom di Indonesia berada di kisaran Rp 148.185, dengan variasi ukuran mulai 275 ml hingga 620 ml. Minuman berbasis rempah dan bahan lokal ini diperkirakan tetap diminati hingga akhir 2026, seiring pergeseran minat konsumen pada rasa yang dinilai lebih otentik dan alami.
Di ranah kuliner, Anggur Kolesom juga mulai dikreasikan menjadi campuran minuman modern. Salah satu contoh yang disebut adalah resep “Kolesom Susu”, yang memadukan 20 ml Anggur Kolesom dengan 80 ml susu rasa madu serta sedikit bubuk kayu manis untuk menghasilkan rasa yang lebih creamy dengan karakter fruity yang kuat.

