Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi langkah strategis pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah di Indonesia. Program ini disebut tidak sekadar membagikan makanan gratis di sekolah, melainkan diharapkan dapat menutup kekurangan asupan gizi yang kerap terjadi pada anak.
Perwakilan Bidang Ilmiah Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Kota Surakarta, Dewi Marfuah, mengatakan banyak anak berangkat sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi. Dalam kondisi tersebut, MBG diharapkan mampu menggantikan waktu makan yang sering terlewat, terutama sarapan.
“Harapannya, program MBG ini bisa menggantikan satu kali waktu makan yang sering hilang, terutama sarapan,” ujar Dewi.
Dewi menjelaskan, menu MBG dirancang untuk memenuhi sekitar seperempat hingga sepertiga kebutuhan gizi harian anak. Porsinya disusun melalui kombinasi karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah.
Menurutnya, asupan gizi seimbang penting agar siswa memiliki energi yang cukup untuk berkonsentrasi dan lebih aktif saat belajar di sekolah.
Data Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) juga menunjukkan 81 persen keluarga rentan mendukung keberlanjutan program MBG karena membantu memastikan kebutuhan nutrisi anak.
Program MBG tidak hanya menyasar siswa sekolah. Program ini juga ditujukan bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui melalui Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG).
Dewi menegaskan, setiap unit SPPG wajib memiliki ahli gizi serta menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat untuk menjaga keamanan pangan dan mencegah makanan basi.
“Dengan asupan yang aman, sehat, dan bergizi, kita sedang membangun fondasi bagi anak-anak Indonesia untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas,” jelas Dewi.

