BERITA TERKINI
Viral Bu Kimpul Menginspirasi UMKM di Yogyakarta, Olahan Kimpul Jadi Peluang Usaha

Viral Bu Kimpul Menginspirasi UMKM di Yogyakarta, Olahan Kimpul Jadi Peluang Usaha

Tren viral olahan pangan lokal di media sosial tidak berhenti sebagai sensasi di dunia maya. Di Yogyakarta, fenomena ini berhasil diolah menjadi peluang ekonomi melalui inovasi produk berbahan kimpul yang dipasarkan pelaku UMKM.

Murwanti, pelaku UMKM asal Demangan, menjajakan Kimpul Chewy Cookie dan Es Krim Gabin di Festival Pariwisata Kuliner Mustika Rasa yang digelar di Alun-alun Selatan, Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026). Usaha tersebut baru berjalan sekitar dua bulan dan menempatkan umbi kimpul (Xanthosoma sagittifolium) sebagai bahan utama berbagai hidangan penutup.

Untuk produk Es Krim Gabin, kimpul dicampur dengan krim kocok (whipped cream) sebagai pugasan atau topping. Sementara Kimpul Chewy Cookie ditawarkan dalam enam varian rasa yang disesuaikan dengan selera pasar modern, di antaranya cokelat, vanila, dan biskuit regal.

Murwanti menuturkan, ide bisnis ini berawal dari viralnya Suratini yang dikenal sebagai “Bu Kimpul”, warga Bantul yang aktif membagikan konten edukasi olahan pangan lokal modern sejak awal 2026. Murwanti mengaku mengadaptasi gagasan tersebut dengan terlebih dahulu meminta izin kepada Bu Kimpul.

“Sejak viral dari Ibu Kimpul itu, terus kami bikin, tetapi kami izin sama beliau. ‘Bu, boleh tidak kami bikin untuk dijual?’ Beliau mengizinkan melalui TikTok waktu itu, terus malah beliau menyarankan untuk dipatenkan,” kata Murwanti.

Di tengah anggapan bahwa mengolah bahan tradisional menjadi hidangan kekinian itu rumit, Murwanti menilai kimpul justru relatif mudah diolah selama komposisinya tepat. Ia menjelaskan proses dasarnya berupa merebus, menumbuk, lalu mencampur sesuai takaran.

“Sebenarnya malah sangat mudah daripada marshmallow. Karena kalau kimpul kan kami tinggal merebus, ala kami orang desa saja. Direbus, kami tumbuk, kami campur. Cuma kami harus tahu komposisinya saja,” ujarnya.

Menurut Murwanti, Kimpul Chewy Cookie juga lahir sebagai bentuk lokalisasi tren camilan yang tengah diminati, sekaligus upaya menunjukkan bahwa bahan tradisional dapat bersaing di kelas hidangan penutup premium.

“Kimpul Chewy Cookie ini kan dari marshmallow. Kalau di Dubai kan ada Dubai Cookies yang dari Timur Tengah itu. Kami orang desa, kami punya kimpul, (jadilah) Kimpul Chewy Cookie,” tuturnya.

Antusiasme pembeli terhadap olahan kimpul tersebut membuat kapasitas produksi UMKM dari Kecamatan Gondokusuman ini terserap habis. Kondisi itu membuat rencana penambahan produk sempat ditunda.

Murwanti juga menyebut dukungan pemerintah kota turut membantu pelaku UMKM melalui fasilitasi ruang berjualan. Ia mengatakan, penjualan dilakukan di sejumlah titik, termasuk di Sunmor UGM setiap hari Minggu serta di Balai Kota setiap hari Jumat.

“Sebenarnya yang jualan itu anak saya. Cuma anak saya sekarang sedang ada kerjaan di Bandung, jadi daripada kosong saya yang jualan. Tadinya mau bikin moci tetapi belum sempat karena ini saja kami sudah alhamdulillah keteteran. Terakhirnya kami jualan di Sunmor UGM, dan sampai sekarang setiap hari Minggu kami ada di Sunmor. Terus hari Jumat kami di Balai Kota juga jualan, kan difasilitasi sama dinas kota untuk setiap hari Jumat jualan,” pungkasnya.