Di tengah kuatnya pengaruh budaya pop Korea Selatan, muncul fenomena lain yang menyita perhatian publik: “Yacha Rule”, tren pertarungan satu lawan satu yang disebut berlangsung nyaris tanpa aturan dan cepat menyebar di dunia maya.
Tren ini disebut bermula dari sebuah kanal YouTube bernama Yacha Club yang rutin menayangkan konten duel satu lawan satu. Tayangan tersebut dikemas seolah menyerupai pertandingan bela diri profesional, meski konsep yang diusung berbeda dari olahraga tarung resmi.
Istilah “Yacha” diambil dari Yaksha, sosok roh predator dalam mitologi Buddha yang identik dengan sisi liar dan tanpa ampun. Nama itu kemudian melekat sebagai identitas gaya pertarungan yang ditampilkan.
Berbeda dari MMA atau tinju yang berada di bawah aturan federasi, pertarungan ala Yacha Rule digambarkan memiliki batasan yang sangat minim. Hampir tidak ada pelindung tubuh, dan larangan yang disebut tersisa hanya tidak boleh menusuk mata lawan.
Penyebarannya berlangsung cepat lewat berbagai platform digital. Video perkelahian mentah beredar di YouTube, Telegram, hingga siaran langsung, dan menarik perhatian jutaan penonton.
Namun, popularitas tersebut juga memunculkan dampak serius. Di Cheongju, dua remaja putri dilaporkan dipaksa bertarung menggunakan konsep Yacha Rule meski keduanya menyatakan keberatan. Salah satu dari mereka kemudian meninggal dunia akibat henti jantung setelah dianiaya.
Kasus terkait Yacha Rule juga disebut pernah menyeret isu ini ke ranah hukum dan pendidikan. Di Jeju, sempat muncul kehebohan setelah seorang guru sekolah dasar dilaporkan menyuruh muridnya menyelesaikan masalah dengan cara Yacha Rule.
Istilah Yacha Rule tidak hanya muncul dalam konteks perkelahian di dunia nyata. Dalam gim daring seperti Valorant, istilah ini dilaporkan mulai digunakan sebagai kode slang untuk tantangan duel tanpa kompromi antarpemain.
Fenomena Yacha Rule menjadi sorotan karena menunjukkan pergeseran cara sebagian masyarakat mengonsumsi hiburan di era digital. Kekerasan yang sebelumnya dianggap tabu kini dapat dipertontonkan secara terbuka, direkam, disiarkan, dan bahkan dimonetisasi demi trafik serta ketenaran instan.