Praktik mouth taping—menempelkan plester pada mulut saat tidur—tengah populer sebagai tren kesehatan di media sosial. Pendukungnya menyebut cara ini dapat meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan secara umum. Namun, kalangan medis menilai klaim tersebut belum didukung bukti ilmiah yang kuat, sementara risikonya dinilai tidak sepele bagi sebagian orang.
Mouth taping dilakukan dengan menutup mulut menggunakan plester perekat selama tidur, dengan tujuan mendorong pernapasan melalui hidung dan mencegah kebiasaan bernapas lewat mulut. Popularitasnya ikut terdorong oleh konten di platform seperti TikTok serta buku Breath: The New Science of a Lost Art, bahkan memunculkan pasar produk plester mulut yang berkembang pesat.
Secara teori, bernapas lewat hidung memang sering dianggap lebih baik daripada lewat mulut. Hidung membantu menyaring alergen, melembapkan udara, dan mengatur suhu udara yang dihirup. Pernapasan hidung juga dapat mengurangi iritasi tenggorokan serta mulut kering saat tidur, dan berpotensi menekan dengkuran. Selain itu, bernapas lewat hidung merangsang reseptor yang membantu menjaga keteraturan napas dan mempertahankan tonus otot di orofaring sehingga dapat menurunkan risiko kolaps saluran napas.
Di sisi lain, berbagai manfaat yang diklaim pendukung mouth taping meluas, mulai dari tidur lebih nyenyak, pernapasan lebih baik, pencegahan bau mulut dan mulut kering, pengurangan dengkuran, pembentukan garis rahang atau struktur wajah, kulit lebih bersih, penurunan tekanan darah, hingga peningkatan kadar oksigen. Namun para ahli menekankan bahwa penelitian mengenai mouth taping umumnya berkualitas rendah dan hasilnya beragam.
Dr. Faisal Zahiruddin, pulmonolog dan spesialis kedokteran tidur di Houston Methodist, menyatakan data yang tersedia belum memadai untuk merekomendasikan praktik ini. Dr. Jessica Camacho, asisten profesor kedokteran internal di CU Anschutz, juga menilai bukti yang ada tidak berkualitas tinggi dan menunjukkan hasil yang tidak konsisten.
Hingga tahun 2026, belum ada pedoman klinis resmi yang mendukung mouth taping sebagai metode pengobatan untuk gangguan tidur apa pun. American Academy of Sleep Medicine bahkan merekomendasikan untuk tidak melakukan mouth taping. Klaim bahwa praktik ini dapat meningkatkan kualitas tidur atau membentuk garis rahang juga disebut tidak memiliki dukungan bukti ilmiah yang kuat.
Beberapa studi kecil memang melaporkan penurunan dengkuran setelah penerapan mouth taping. Namun, bukti tentang dampaknya pada sleep apnea ringan masih tidak konsisten. Salah satu studi menemukan penutupan mulut dapat meningkatkan aliran udara pada individu dengan pernapasan mulut sedang, tetapi justru memperburuk aliran udara pada mereka yang pernapasan mulutnya lebih parah. Studi percontohan tahun 2023 yang melibatkan 30 peserta juga menunjukkan plester mulut berpori dapat menurunkan indeks apnea-hipopnea (AHI) pada pasien dengan sleep apnea obstruktif ringan, tetapi penulisnya memperingatkan agar temuan tersebut tidak digeneralisasi karena ukuran sampel kecil.
Perhatian terbesar para ahli tertuju pada potensi bahaya, terutama risiko gangguan pernapasan. Dr. Zahiruddin menjelaskan bahwa pada sebagian orang dengan sumbatan hidung—misalnya karena hidung tersumbat, septum menyimpang, atau alergi—pernapasan lewat mulut bisa menjadi jalur penting untuk menjaga aliran udara. Dalam kondisi seperti itu, mouth taping berpotensi memicu asfiksia. Ia juga menyebut risiko dapat meningkat pada individu dengan obstruksi hidung, sleep apnea, regurgitasi, atau refluks asam.
Dr. Brian Chen, spesialis kedokteran tidur anak, menambahkan bahwa membatasi aliran udara dengan plester mulut dapat menyebabkan kesulitan bernapas yang parah dan penurunan kadar oksigen yang signifikan, terutama pada orang yang saluran napasnya sudah menyempit atau tersumbat. Karena itu, mouth taping tidak dianjurkan bagi mereka yang memiliki riwayat alergi kronis dan hidung tersumbat, sleep apnea, penyakit refluks gastroesofageal (GERD), atau kondisi jantung dan paru-paru, termasuk asma.
Pada penderita sleep apnea, kurangnya aliran udara atau penurunan kadar oksigen saat tidur dapat membebani jantung, paru-paru, dan organ vital lain. Selain risiko pernapasan, plester juga dapat menimbulkan masalah kulit seperti iritasi, reaksi alergi, ruam, atau kemerahan di sekitar mulut—terutama bila bukan bahan hipoalergenik. Plester juga dapat memerangkap keringat dan kelembapan sehingga berpotensi menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri. Bagi sebagian orang, sensasi mulut tertutup rapat juga bisa memicu kecemasan dan mengganggu kualitas tidur.
Para ahli menekankan mouth taping bukan solusi universal dan perlu kehati-hatian tinggi. Konsultasi dengan dokter disarankan sebelum mencoba. Jika seseorang tetap ingin melakukannya, Dr. Zahiruddin menyarankan penggunaan plester mikropori hipoalergenik dan menempelkan strip kecil di bagian tengah bibir yang tertutup agar masih memungkinkan sedikit aliran udara.
Di atas itu, langkah yang dinilai lebih penting adalah mengidentifikasi dan menangani penyebab dasar pernapasan mulut, seperti alergi, septum menyimpang, atau sumbatan hidung kronis. Bila mengalami dengkuran terus-menerus, tersedak saat tidur, atau kantuk berlebihan pada siang hari, konsultasi ke profesional kesehatan dianjurkan. Fokus pada kebiasaan tidur yang sehat dan penanganan medis yang tepat dipandang sebagai pendekatan paling aman untuk meningkatkan kualitas tidur.