Tren mengubah foto menjadi bergaya era 1980-an menggunakan fitur kecerdasan buatan (AI) di ChatGPT tengah ramai di media sosial. Warganet mengunggah foto untuk kemudian menghasilkan gambar bernuansa retro dalam waktu singkat, tanpa perlu menyusun perintah (prompt) yang rumit.
Sebelumnya, tren serupa juga sempat muncul ketika pengguna mengubah foto menjadi bergaya Studio Ghibli. Ramainya pembuatan gambar AI bahkan sempat mendorong CEO OpenAI, Sam Altman, meminta pengguna mengurangi pembuatan gambar.
Di balik kemudahan menghasilkan gambar dalam hitungan detik, terdapat proses komputasi di pusat data (data centre) yang membutuhkan listrik dan menghasilkan panas. Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah tren foto 80-an dengan AI turut berdampak pada lingkungan?
Konsumsi listrik di balik pembuatan gambar AI
Gambar AI yang tampil di layar ponsel diproses oleh mesin berdaya tinggi di data centre. Perangkat ini memerlukan pasokan listrik dan menghasilkan panas, sehingga membutuhkan sistem pendingin agar dapat beroperasi stabil.
Menurut laporan Firstpost yang mengutip penelitian Carnegie Mellon University dan Hugging Face, pembuatan satu gambar AI diperkirakan membutuhkan listrik sekitar 0,01 hingga 0,29 kilowatt-jam (kWh). Besarnya konsumsi dapat berbeda tergantung sistem dan proses yang digunakan.
Angka tersebut terlihat kecil jika hanya untuk satu gambar. Namun kebutuhan energi dapat meningkat ketika pengguna membuat beberapa versi dan ketika jutaan orang mengikuti tren yang sama.
Pertumbuhan penggunaan AI juga disebut memberi tekanan pada infrastruktur data centre. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik data centre secara global akan meningkat lebih dari dua kali lipat hingga 2030.
Di Amerika Utara, data dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mencatat kebutuhan daya data centre meningkat dari 2.688 megawatt pada akhir 2022 menjadi 5.341 megawatt setahun kemudian.
Penggunaan air untuk pendinginan
Dampak lain yang tidak langsung terlihat adalah kebutuhan air. Air digunakan dalam sistem pendingin untuk menjaga peralatan di data centre tetap bekerja pada suhu yang sesuai.
Penelitian University of California, Riverside memperkirakan proses pelatihan GPT-3 dapat membutuhkan sekitar 700.000 liter air tawar. Peneliti juga memperkirakan sekitar 20 hingga 50 sesi tanya jawab dengan ChatGPT dapat berkaitan dengan penggunaan air sekitar 500 mililiter.
Namun, besaran penggunaan air tersebut tidak bisa dianggap sebagai angka pasti untuk setiap percakapan. Jumlahnya dapat berbeda tergantung lokasi data centre, teknologi pendingin, sumber listrik, dan beban kerja sistem. Karena itu, tidak ada angka penggunaan air yang berlaku universal untuk setiap prompt maupun gambar AI.
Jejak lingkungan dari perangkat keras
Jejak lingkungan AI juga tidak hanya muncul saat pengguna membuat gambar. Dampak sudah dimulai dari pembuatan perangkat yang menopang layanan AI, seperti GPU, server, perangkat jaringan, dan komponen semikonduktor. Produksi perangkat ini memerlukan bahan tambang, energi dalam jumlah besar, serta rantai pasok yang panjang.
United Nations Environment Programme (UNEP) menyoroti besarnya kebutuhan material dalam produksi perangkat elektronik. Sebagai gambaran, pembuatan komputer dengan berat sekitar 2 kilogram dapat membutuhkan ratusan kilogram bahan baku.
Karena itu, dampak lingkungan dari sebuah gambar AI tidak hanya terkait listrik saat proses pembuatan gambar. Ada pula jejak dari penambangan material, produksi chip, pembuatan perangkat, pengiriman, pembangunan data centre, hingga limbah elektronik ketika perangkat tidak lagi digunakan.
Tren viral dan akumulasi penggunaan
AI memiliki manfaat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penelitian, pekerjaan, aksesibilitas, hingga kreativitas. Namun tren viral dapat mendorong pengguna membuat gambar berulang kali hanya untuk mengikuti arus.
Membuat beberapa versi dari foto yang sama mungkin terasa tidak berdampak besar jika dilakukan satu orang. Tetapi ketika aktivitas serupa dilakukan jutaan pengguna, kebutuhan komputasi dan sumber daya yang dipakai ikut meningkat.
Tren foto bergaya 80-an pada akhirnya bisa berganti dengan tren AI lain. Meski tren mereda, infrastruktur yang menopang layanan AI tetap memerlukan listrik, air, perangkat keras, dan sumber daya lain untuk beroperasi. Pengguna pun diingatkan bahwa gambar digital yang tampak sederhana tetap dihasilkan melalui proses fisik yang membutuhkan sumber daya nyata.