Istilah sleepmaxxing belakangan ramai dibicarakan di media sosial, terutama TikTok. Tren ini mendorong orang untuk mengoptimalkan kualitas tidur melalui berbagai cara, seperti mengatur suhu kamar, memakai alat pelacak tidur, hingga menjalankan rutinitas sebelum tidur.
Survei American Academy of Sleep Medicine (AASM) menunjukkan semakin banyak orang menggunakan jam tangan pintar maupun aplikasi untuk memantau kualitas tidurnya. Namun, para ahli mengingatkan bahwa mengejar skor tidur yang dianggap sempurna justru dapat memicu kecemasan dan membuat seseorang semakin sulit tidur.
Dokter spesialis tidur dari University of California San Francisco (UCSF), Dr. Katherine Malcolm, menjelaskan bahwa alat pelacak tidur dapat membantu melihat pola tidur secara umum. Meski begitu, perangkat tersebut tidak mampu mengukur seluruh tahapan tidur seakurat pemeriksaan di laboratorium tidur, sehingga hasilnya tidak perlu dijadikan patokan mutlak.
Pakar tidur dari Stanford Sleep Medicine, Dr. Rafael Pelayo, menambahkan bahwa angka atau sleep score pada tiap perangkat dibuat dengan algoritma yang berbeda-beda. Karena itu, skor lebih tepat digunakan untuk melihat perubahan dari waktu ke waktu, bukan sebagai penentu utama apakah seseorang tidur dengan baik atau tidak.
Para ahli menilai, sebagian kebiasaan yang sering dikaitkan dengan sleepmaxxing memang didukung bukti ilmiah. Di antaranya tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, mengurangi paparan cahaya dari gawai sebelum tidur, menjaga kamar tetap sejuk, gelap, dan tenang, serta menghindari konsumsi kafein maupun alkohol menjelang waktu tidur.
Di sisi lain, sejumlah tren viral seperti menutup mulut dengan plester (mouth taping) atau mengonsumsi berbagai suplemen tanpa anjuran tenaga kesehatan dinilai belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Praktik tersebut juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan apabila dilakukan tanpa pengawasan medis.
Secara umum, sleepmaxxing dapat bermanfaat bila berfokus pada kebiasaan tidur yang sehat dan realistis, bukan mengejar kesempurnaan. Para pakar menyarankan masyarakat menjadikan tidur berkualitas sebagai bagian dari gaya hidup sehat, serta berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus.