BERITA TERKINI
QS Yunus 62-64 Menyebut Ciri Wali Allah: Tanpa Rasa Takut, Tidak Bersedih, dan Mendapat Kabar Gembira

QS Yunus 62-64 Menyebut Ciri Wali Allah: Tanpa Rasa Takut, Tidak Bersedih, dan Mendapat Kabar Gembira

Al-Qur’an menyebutkan ciri-ciri wali Allah dalam QS Yunus ayat 62-64. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa wali-wali Allah tidak diliputi rasa takut dan tidak pula bersedih hati, serta mendapatkan kabar gembira di kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam uraian yang merujuk pada QS Yunus 62-64, wali Allah dipahami sebagai orang-orang yang mencapai kedekatan tinggi dengan Allah, berada pada derajat mulia setelah para nabi dan rasul. Kondisi batin mereka digambarkan penuh ketenangan dan kebahagiaan, sehingga tidak mudah goyah oleh tekanan hidup.

Ayat yang dikutip dalam penjelasan itu berbunyi: “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka mendapatkan kabar gembira di kehidupan dunia dan akhirat.” (QS Yunus: 62-64).

Penjelasan tersebut menekankan bahwa salah satu ciri utama wali Allah adalah tidak takut kepada siapa pun selain Allah. Mereka juga tidak larut dalam kesedihan atas urusan dunia karena orientasi hati mereka disebut lebih terikat pada akhirat. Ketenangan dan keyakinan kepada Allah membuat mereka tidak panik saat menghadapi ujian hidup.

Dalam contoh yang disampaikan, sikap tidak takut itu diilustrasikan melalui kisah Nabi Ibrahim ketika dilempar ke dalam api. Ia digambarkan tetap tenang karena keyakinannya kepada Allah. Dalam konteks keyakinan dan tawakal, disebut pula kutipan ayat: “Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imran: 173).

Selain ketenangan batin, wali Allah juga disebut memperoleh kabar gembira. Di dunia, bentuk kabar gembira itu dijelaskan dapat berupa ketenteraman hati, kejelasan dalam mengambil keputusan, serta keberkahan dalam hidup. Sementara di akhirat, kabar bahagia itu dipahami sebagai surga dan ridha Allah.

Ciri berikutnya yang diuraikan adalah kuatnya penjagaan terhadap ketaatan. Wali Allah digambarkan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan, bahkan menjauhi perkara syubhat atau yang meragukan. Mereka tidak hanya menjalankan ibadah wajib, tetapi juga memperbanyak ibadah sunnah.

Dalam bagian akhir, penjelasan itu juga merujuk pada sebuah hadits qudsi dalam HR Bukhari yang dikaitkan dengan gambaran kedekatan hamba dengan Allah melalui ketaatan, meski kutipan lengkap hadits tersebut tidak disertakan dalam materi.