BERITA TERKINI
Paparan Kabar Erupsi Anak Krakatau Berulang di Media Sosial Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

Paparan Kabar Erupsi Anak Krakatau Berulang di Media Sosial Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak beberapa hari terakhir. Kabar ini cepat menyebar di media sosial, mulai dari video aktivitas erupsi, kondisi abu vulkanik, hingga berbagai informasi mengenai dampaknya. Di tengah perhatian terhadap keselamatan fisik, situasi tersebut juga memunculkan kekhawatiran lain: dampak psikologis yang bisa dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang berada jauh dari lokasi kejadian.

Bagi sebagian orang, mengikuti pemberitaan bencana secara terus-menerus dapat memicu rasa takut dan cemas. Dorongan untuk selalu mengetahui perkembangan terbaru juga bisa membuat seseorang tanpa sadar melakukan doomscrolling, yakni kebiasaan menggulir informasi negatif berulang-ulang, sehingga semakin sulit mengalihkan perhatian dari kabar bencana.

1. Memicu rasa cemas dan takut
Paparan kabar erupsi yang terus berulang dapat membuat seseorang semakin memikirkan kemungkinan terburuk, terutama ketika informasi yang beredar belum sepenuhnya jelas atau terus berubah. Rasa takut dan cemas merupakan respons yang wajar saat menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau tidak pasti. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat situasi darurat dapat memicu tekanan psikologis, termasuk kecemasan, kesedihan, dan rasa tidak berdaya.

2. Membuat merasa seolah terus berada dalam situasi berbahaya
Ketika linimasa dipenuhi video erupsi, kepulan abu, atau kondisi wilayah terdampak, otak dapat terus menerima pengingat tentang ancaman. Akibatnya, sebagian orang merasa sulit benar-benar rileks meski sedang berada di tempat yang aman. Melihat satu video atau berita secara berulang tidak selalu membuat lebih siap; paparan berlebihan justru dapat membuat pikiran terpaku pada kemungkinan buruk.

3. Menimbulkan rasa tidak berdaya
Bencana alam berada di luar kendali manusia. Saat terus mengikuti perkembangan dari jauh, seseorang dapat merasa khawatir terhadap orang-orang yang terdampak, tetapi tidak tahu apa yang bisa dilakukan. WHO menyebut rasa tidak berdaya, sulit tidur, kelelahan, dan mudah marah sebagai beberapa respons psikologis yang dapat muncul dalam situasi darurat. Pada banyak orang, tekanan ini dapat membaik seiring waktu.

4. Mengganggu tidur dan konsentrasi
Kebiasaan terus mengecek berita, termasuk membuka media sosial sebelum tidur untuk melihat perkembangan terbaru, dapat membuat pikiran sulit beristirahat. Jika terjadi berulang, informasi yang mengkhawatirkan dapat membuat seseorang kesulitan melepaskan perhatian dari situasi bencana. Dampaknya, tidur dan konsentrasi dalam aktivitas sehari-hari bisa ikut terganggu.

5. Mendorong kebiasaan terus-menerus mengecek berita
Rasa cemas dapat memicu dorongan untuk mencari informasi lebih banyak. Ada anggapan bahwa mengikuti kabar terbaru akan mengurangi ketakutan, tetapi paparan informasi negatif yang berlebihan justru dapat memperkuat kecemasan. Siklus ini kemudian mendorong seseorang kembali mengecek berita untuk mencari kepastian.

Tetap mengikuti perkembangan tanpa kewalahan
Mengikuti informasi bencana tetap penting, terutama jika berkaitan dengan keselamatan. Namun, masyarakat dapat mempertimbangkan untuk memilih beberapa sumber yang tepercaya dan membatasi waktu membaca berita. Tidak semua video atau unggahan perlu diikuti.

Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, berikan jeda dengan melakukan aktivitas lain, seperti berjalan kaki, olahraga ringan, membaca, menjalani hobi, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat. Jika rasa cemas, sulit tidur, atau tekanan emosional berlangsung hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang dipertimbangkan.

Menjaga kesehatan mental bukan berarti mengabaikan situasi. Kewaspadaan tetap bisa dilakukan tanpa membiarkan kabar buruk memenuhi pikiran sepanjang hari.