Tren kuliner di media sosial terus melahirkan beragam makanan viral yang menawarkan pengalaman rasa dan sensasi mengikuti arus popularitas. Namun, di balik daya tarik tersebut, harga jajanan kekinian kerap memunculkan perbandingan dengan kebutuhan pokok, terutama di tengah biaya hidup yang disebut terus meningkat.
Salah satu contoh yang ramai dibicarakan adalah unagi butter viral dengan harga sekitar Rp300 ribuan. Dalam perbincangan yang diunggah akun Instagram @rumpi_gosip pada Senin (31/8/2026), nominal tersebut disebut setara dengan pembelian sekitar 23 kilogram beras, yang dapat menjadi persediaan pangan keluarga untuk beberapa waktu.
Perbandingan serupa juga muncul pada produk viral lainnya. Satu cup yogurt frozen, misalnya, disebut dapat disejajarkan nilainya dengan sekitar 3,4 liter minyak goreng yang merupakan kebutuhan dapur harian. Sementara satu chewy Dubai cookie yang sedang populer disebut setara dengan sekitar 1 kilogram ayam, bahan makanan sumber protein bagi keluarga.
Meski demikian, perbandingan tersebut tidak serta-merta dimaksudkan untuk menyatakan bahwa makanan viral tidak layak dibeli. Setiap produk memiliki nilai yang berbeda. Jajanan kekinian umumnya tidak hanya menjual rasa, tetapi juga pengalaman, inovasi, tampilan yang menarik, serta sensasi mencoba sesuatu yang sedang ramai.
Harga pada makanan viral juga kerap dipengaruhi unsur kebaruan (novelty), kreativitas penyajian, strategi pemasaran digital, dan efek popularitas media sosial. Dalam konteks ini, konsumen tidak hanya membayar makanan, melainkan juga pengalaman dan momen yang menyertainya.
Namun, ketika biaya hidup meningkat, membandingkan manfaat dari setiap pengeluaran menjadi pertimbangan yang semakin relevan. Nominal uang yang sama dapat menghasilkan dampak yang berbeda, tergantung pada bagaimana dana itu dialokasikan.
Membeli makanan viral sesekali tetap menjadi pilihan pribadi. Bagi sebagian orang, pengalaman mencicipi makanan yang sedang tren memberi kepuasan tersendiri. Sementara bagi yang lain, jumlah uang yang sama mungkin terasa lebih bernilai jika digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, stok bahan pangan, atau tabungan.
Fenomena ini menegaskan bahwa harga bukan satu-satunya ukuran nilai. Ada manfaat jangka pendek berupa kesenangan dan pengalaman, namun ada pula manfaat jangka panjang berupa pemenuhan kebutuhan.