Aroma bumbu yang berpadu dengan gurih lorjhuk menjadi identitas campor racikan Hamimah dari Desa Pademawu Timur, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Sajian berbahan kerang khas Madura itu telah dijalankan selama 17 tahun dan terus menarik pembeli, termasuk dari luar daerah.
Hamimah menuturkan, usahanya tidak berawal dari perencanaan bisnis yang rumit. Ia memulainya dari keinginan pribadi untuk memiliki usaha sendiri dengan menjual campor lorjhuk.
“Awalnya dari saya sendiri, keinginan dari saya sendiri untuk membuat usaha campor lorjhuk,” ujar Hamimah.
Pilihan menggunakan lorjhuk didasari ketersediaan bahan tersebut di wilayah Pademawu Timur yang dikenal memiliki potensi lorjhuk. Bahan pangan lokal itu kemudian diolah menjadi bagian utama dalam campor buatannya.
Selama berjualan, Hamimah mempertahankan lorjhuk sebagai ciri khas. Ia memadukannya dengan racikan bumbu buatan sendiri, yang antara lain menggunakan bawang putih, bawang merah, dan cabai keriting.
“Ya ciri khasnya lorjhuk sama bumbu buatan saya,” katanya.
Dalam sehari, Hamimah menghabiskan sekitar 1 hingga 1,25 kilogram lorjhuk, tergantung jumlah pembeli yang datang.
“Kadang satu kilo, kadang lebih seperempat,” ujarnya.
Usaha yang bertahan hampir dua dekade itu kini tidak lagi dijalankan seorang diri. Anak-anak Hamimah turut membantu menjaga keberlangsungan usaha yang telah ia rintis.
Seiring waktu, Campor Lorjhuk Hamimah semakin dikenal. Pembeli tidak hanya datang dari Pademawu Timur dan sekitarnya, tetapi juga dari luar Kabupaten Pamekasan yang sengaja ingin mencicipi.
Media sosial turut memperluas jangkauan pengenalan kuliner tersebut. Hamimah menyebut sejumlah konten kreator pernah datang dan mengabadikan campor lorjhuk miliknya dalam konten mereka.
“Ini cukup terkenal karena ciri khas lorjhuknya. Ada banyak pengunjung, bahkan dari luar Pamekasan yang datang. Sudah ada beberapa konten kreator yang mengontenkan campor lorjhuk ini,” ungkap Hamimah.
Bagi Hamimah, lorjhuk yang tersedia di lingkungan tempat tinggalnya bukan sekadar hasil alam. Di tangannya, bahan tersebut diolah menjadi sajian bernilai ekonomi sekaligus mempertahankan karakter kuliner lokal.
Selama 17 tahun, resep dan ciri khas campor lorjhuk itu terus dijaga. Berawal dari keinginan membuka usaha, campor racikan Hamimah menjadi salah satu contoh bagaimana pangan lokal Madura dapat bertahan ketika terus diolah dan dikenalkan dari waktu ke waktu.