BERITA TERKINI
Dokter Jelaskan Rumor Susu Beruang Bisa Membersihkan Paru-paru Perokok

Dokter Jelaskan Rumor Susu Beruang Bisa Membersihkan Paru-paru Perokok

Susu beruang kerap dikonsumsi masyarakat Indonesia. Namun, perlu dipahami bahwa “susu beruang” bukanlah jenis susu, melainkan merek dagang yang termasuk dalam kategori susu steril.

Proses sterilisasi pada susu steril dilakukan dengan temperatur tinggi dalam waktu lama. Umumnya, susu dipanaskan pada suhu sekitar 110–120 derajat Celsius selama 20–40 menit. Proses ini bertujuan membunuh bakteri yang ada di dalam susu.

Pengolahan dengan suhu tinggi dapat menyebabkan perubahan tekstur, rasa, dan warna yang mungkin tidak disukai sebagian orang. Meski begitu, susu steril dapat disimpan pada suhu ruangan hingga sekitar 10 bulan selama kemasannya belum dibuka.

Sejumlah orang menilai konsumsi susu beruang dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Belakangan, muncul pula rumor yang menyebut susu beruang bisa “membersihkan paru-paru”, terutama bagi perokok yang saluran pernapasannya dinilai lebih rentan mengalami infeksi akibat paparan asap rokok.

Jika terjadi infeksi, perokok berisiko mengalami berbagai penyakit paru-paru, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan kanker paru. Lalu, benarkah susu beruang dapat membersihkan paru-paru?

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan, dr Erlina Burhan, SpP(K), menegaskan tidak ada makanan yang dapat membersihkan paru-paru, termasuk susu beruang.

Menurut dr Erlina, upaya untuk menyehatkan saluran napas dapat dilakukan melalui senam pernapasan serta berhenti merokok, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik.

“Hoaks ya yang mengatakan para perokok supaya saluran napasnya bersih minum susu (beruang). Nggak ada hubungannya itu. Susu masuknya ke mana? Ini (asap rokok) ke saluran napas bukan saluran cerna,” kata dr Erlina.

Ia menambahkan, menjaga saluran napas agar tidak sering mengalami infeksi juga penting. Infeksi yang berulang dan hilang-timbul dalam jangka panjang dapat memicu perubahan pada saluran pernapasan sehingga lebih rentan terinfeksi.