Blok M kembali jadi perbincangan, bukan karena kemacetan atau terminal yang dulu melekat di ingatan.
Kali ini, yang membuatnya tren adalah arus manusia yang datang untuk dua hal sederhana.
Nostalgia, dan rasa penasaran pada kuliner viral yang beredar cepat di media sosial.
Di libur panjang Kenaikan Yesus Kristus, Sabtu (16/5/2026), kawasan Blok M di Jakarta Selatan dipadati pengunjung.
Di antara mereka, tampak generasi yang pernah menyaksikan Blok M sebelum wajahnya dipoles modernisasi.
Ada yang datang dari jauh, ada yang membawa keluarga, ada yang mengajak teman lama.
Nama Blok M mendadak kembali seperti kata sandi kolektif.
Sekali disebut, orang-orang paham: di sana ada kenangan, dan ada sesuatu yang baru untuk dicicipi.
-000-
Isu yang Membuat Blok M Menjadi Tren
Keramaian Blok M menjadi tren karena ia menyatukan dua arus besar zaman.
Arus memori, dan arus algoritma.
Memori bekerja pelan, tetapi kuat.
Algoritma bekerja cepat, tetapi luas.
Ketika keduanya bertemu, sebuah tempat bisa hidup kembali dalam hitungan hari.
Di Blok M, pertemuan itu terlihat jelas pada orang-orang yang datang bukan sekadar lewat.
Mereka datang untuk “mengalami” kota, bukan hanya melintasinya.
Di lokasi, area kuliner hingga Little Tokyo ramai sejak menjelang makan siang.
Trotoar dan lorong pusat kuliner dipadati pejalan kaki.
Bahkan hujan tidak menghentikan orang untuk tetap nongkrong dan berburu makanan.
Tren ini bukan hanya tentang makan.
Ia tentang cara warga kota mencari makna di sela rutinitas, dan cara ruang publik menjawabnya.
-000-
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Meledak di Perbincangan
Pertama, nostalgia lintas usia yang menemukan panggungnya.
Generasi yang mengenal Blok M era 1990-an melihat tempat lama berubah, namun tetap bisa dikenali sebagai “rumah” memori.
Kedua, kuliner viral memberi alasan praktis untuk datang.
Viralitas membuat orang merasa ada sesuatu yang harus dicoba sebelum terlambat.
Di lapangan, pengunjung mencoba menu seperti ayam celup dan es teler yang ramai dibicarakan.
Ketiga, akses transportasi membuat keramaian menjadi mungkin.
Pengunjung menyebut kemudahan MRT dan Transjakarta membuat orang dari mana-mana gampang ke Blok M.
Di kota besar, tren sering bukan soal daya tarik semata.
Tren juga soal kemudahan mencapai daya tarik itu.
-000-
Suara Generasi yang Kembali: Antara Kenangan dan Rasa Penasaran
Aca (66), warga Kelapa Gading, datang bersama teman-temannya.
Ia sengaja berangkat untuk mengenang suasana lama sambil mencoba makanan yang sedang populer.
“Kita emang sengaja mau kesini dari rumah di Kelapa Gading lagi mau nostalgia,” katanya.
Ia menyebut rombongannya ingin mencoba yang “viral-viral”.
Dalam perjalanannya, mereka mencicipi ayam celup dan es teler.
“Enak es telernya ternyata,” ujar Aca, dengan nada yang terdengar seperti menemukan kejutan kecil.
Aca mengenal Blok M sejak era 1990-an.
Saat itu, Blok M identik dengan terminal dan pusat transportasi.
Ia mengingat masa ketika Bis Mayasari dan PPD masih menjadi penanda zaman.
“Belum ada Busway,” katanya, menegaskan jarak waktu yang kini terasa nyata.
Menurutnya, Blok M dulu ramai, tetapi tidak sepadat sekarang.
Ia juga menyimpan ingatan tentang terminal Blok M dan Aldiron Plaza yang kini menjadi Blok M Square.
Perubahan membuat kawasan ini dipenuhi tempat nongkrong dan pusat kuliner.
Ia menilai suasana baru membawa energi positif.
“Bagus juga sih tapi jangan berkelahi saja,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun mengandung pesan tentang ruang publik yang aman.
-000-
Keluarga, Kopi, dan Kota yang Mengundang Pulang
Mashudi (64) datang bersama keluarganya.
Ia juga ingin bernostalgia, sekaligus penasaran pada Blok M yang kembali populer di kalangan anak muda.
Ia sempat mencoba kopi dan jajanan yang sedang ramai.
“Sekarang pilihannya banyak sekali,” ujarnya.
Bagi Mashudi, nostalgia tidak harus berarti kembali ke masa lalu sepenuhnya.
Nostalgia bisa berdampingan dengan hal baru, tanpa saling meniadakan.
Ia juga menekankan faktor akses.
Menurutnya, kemudahan transportasi umum ikut membuat Blok M “hidup lagi”.
Pernyataan itu menunjukkan satu hal penting.
Kota yang mudah diakses memberi kesempatan lebih besar bagi warganya untuk bertemu.
-000-
Blok M sebagai Cermin Isu Besar Indonesia: Ruang Publik, Mobilitas, dan Identitas Kota
Keramaian Blok M bukan sekadar kabar gaya hidup.
Ia menyentuh isu besar yang relevan bagi Indonesia, terutama kota-kota yang tumbuh cepat.
Pertama, soal ruang publik dan rasa aman.
Ucapan Aca tentang “jangan berkelahi” mengingatkan bahwa keramaian perlu dikelola, bukan hanya dirayakan.
Ruang publik yang sehat memungkinkan orang berbeda usia dan latar berkumpul tanpa rasa terancam.
Kedua, soal mobilitas dan transportasi massal.
Pengunjung mengaitkan kebangkitan Blok M dengan MRT dan Transjakarta.
Ini menegaskan hubungan erat antara transportasi dan ekonomi kawasan.
Ketiga, soal identitas kota yang berubah.
Blok M dulunya terminal dan simpul perjalanan.
Kini ia juga menjadi tujuan, tempat orang sengaja datang untuk mengalami suasana.
Perubahan fungsi ini sering terjadi di kota besar.
Pertanyaannya selalu sama: bagaimana menjaga ingatan, sambil memberi ruang bagi pembaruan.
-000-
Kerangka Konseptual: Mengapa Nostalgia dan Viralitas Begitu Kuat
Secara konseptual, nostalgia sering dipahami sebagai cara manusia merawat kesinambungan diri.
Ketika kota berubah, orang mencari jangkar emosional agar tidak merasa tercerabut.
Dalam studi psikologi, nostalgia kerap dikaitkan dengan emosi hangat dan rasa keterhubungan sosial.
Ia membuat orang ingin bertemu, bercerita, dan mengulang pengalaman.
Di sisi lain, viralitas adalah mekanisme penyebaran perhatian.
Media sosial mendorong orang mengejar pengalaman yang sedang dibicarakan.
Dalam kajian perilaku konsumen, tren makanan sering dipicu oleh bukti sosial.
Jika banyak orang mencoba, orang lain terdorong ikut mencoba.
Blok M menjadi panggung ideal bagi dua dorongan ini.
Ada memori bagi yang lebih tua, ada konten bagi yang lebih muda, dan ada rasa ingin tahu bagi semuanya.
Libur panjang memberi waktu, dan akses transportasi memberi kemudahan.
Hasilnya adalah keramaian yang tampak organik, namun sebenarnya lahir dari banyak lapisan sebab.
-000-
Riset yang Relevan: Kota, Akses, dan Kebangkitan Kawasan
Dalam kajian perencanaan kota, aksesibilitas sering disebut sebagai penentu vitalitas kawasan.
Ketika konektivitas meningkat, arus pengunjung meningkat, dan aktivitas ekonomi ikut terdorong.
Pengalaman Blok M yang disebut pengunjung selaras dengan prinsip tersebut.
Transportasi publik membuat perjalanan lebih terprediksi.
Ia juga mengurangi hambatan psikologis untuk pergi, terutama saat kawasan diperkirakan ramai.
Riset tentang “place attachment” juga relevan.
Konsep ini menjelaskan ikatan emosional antara manusia dan tempat.
Ikatan semacam itu dapat memanggil orang untuk kembali, meski tempatnya sudah berubah.
Di Blok M, ikatan itu muncul dalam detail kecil.
Nama bus lama, ingatan terminal, dan cerita tentang kepadatan yang dulu berbeda.
Semua itu bukan data statistik.
Namun ia adalah arsip hidup yang dibawa warga, dan mengubah kunjungan menjadi pengalaman bermakna.
-000-
Rujukan Serupa di Luar Negeri: Ketika Distrik Lama Hidup Lagi
Fenomena kawasan lama yang kembali ramai bukan hal unik.
Di banyak kota, distrik yang dulu dikenal sebagai simpul transportasi atau perdagangan bisa berubah menjadi pusat kuliner dan budaya.
Contoh yang sering dibahas adalah kawasan Shibuya di Tokyo.
Ia lama menjadi simpul pergerakan, lalu berkembang sebagai magnet gaya hidup, ritel, dan tempat berkumpul lintas generasi.
Contoh lain adalah kawasan around King’s Cross di London.
Area yang identik dengan stasiun dan aktivitas komuter mengalami pembaruan, lalu menarik pengunjung untuk kuliner dan ruang publik.
Kesamaan dari contoh-contoh itu ada pada dua hal.
Konektivitas transportasi, dan kemampuan kawasan menyediakan pengalaman yang bisa dinikmati pejalan kaki.
Blok M memperlihatkan gejala serupa dalam konteks Jakarta.
Namun setiap kota punya tantangan sendiri.
Jakarta harus mengelola kepadatan, keamanan, dan kenyamanan, agar kebangkitan kawasan tidak menimbulkan masalah baru.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, pengelolaan keramaian harus mengutamakan keselamatan pejalan kaki.
Trotoar yang padat perlu dijaga agar tetap nyaman, terutama bagi lansia dan keluarga.
Kedua, suasana aman harus jadi prioritas.
Pesan “jangan berkelahi” seharusnya dibaca sebagai kebutuhan akan ketertiban, bukan sekadar imbauan moral.
Ketiga, transportasi publik perlu dijaga konsistensinya.
Jika akses adalah alasan Blok M hidup lagi, maka kualitas layanan adalah syarat agar ia tetap hidup.
Keempat, pelaku usaha kuliner perlu menjaga kualitas dan antrean yang tertib.
Viralitas mudah datang, tetapi mudah juga pergi ketika pengalaman pengunjung mengecewakan.
Kelima, warga bisa menikmati tren tanpa kehilangan empati.
Keramaian bukan alasan untuk saling menyerobot ruang.
Ruang kota selalu terbatas, dan hanya bisa dinikmati jika ada saling menjaga.
-000-
Penutup: Kota yang Diingat, Kota yang Dihidupi
Blok M hari ini memperlihatkan bahwa kota bukan sekadar bangunan dan jalan.
Kota adalah perasaan yang menempel pada langkah, dan cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi lain.
Aca dan Mashudi datang membawa masa lalu.
Anak-anak muda datang membawa rasa ingin tahu, dan mungkin kamera di tangan.
Di antara keduanya, ada ruang yang mempertemukan.
Ruang itu bernama Blok M, dan ia mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu berarti kehilangan.
Perubahan bisa menjadi kesempatan untuk berjumpa lagi, dengan tempat, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri.
Pada akhirnya, kota yang baik adalah kota yang membuat warganya ingin kembali.
Dan seperti kutipan yang sering dipegang para pejalan, “Kita tidak hanya mencari tempat, kita mencari rasa pulang.”

