BOJONEGORO — Perkembangan layanan digital membuka alternatif baru bagi masyarakat untuk berbelanja sayuran dan kebutuhan dapur tanpa harus datang langsung ke pasar. Salah satu layanan yang mulai dimanfaatkan adalah platform Pasar.id, yang memungkinkan pembeli memilih berbagai bahan makanan secara lebih praktis.
Kehadiran layanan tersebut menjadi bagian dari upaya digitalisasi pasar tradisional. Selain memberi pilihan bagi pembeli, pemanfaatan teknologi juga dinilai dapat membantu pedagang menjangkau konsumen yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan transaksi tatap muka di lapak.
Di Kabupaten Bojonegoro, perubahan kebiasaan belanja masyarakat menjadi peluang bagi pedagang pasar untuk mulai mengenal layanan digital. Berbagai komoditas seperti sayuran, bumbu dapur, dan bahan makanan lain yang selama ini dijual secara konvensional berpotensi dipasarkan melalui platform daring.
Narti, salah seorang pedagang pasar, menilai perkembangan teknologi dapat memberikan manfaat bagi pedagang kecil, terutama untuk memperkenalkan dagangan kepada masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, sayuran dan kebutuhan dapur termasuk barang yang hampir setiap hari dicari masyarakat, sehingga pilihan belanja yang lebih mudah bisa menjadi nilai tambah.
“Kalau sekarang belanja bisa lebih praktis, tentu menjadi pilihan bagi pembeli. Harapannya, dagangan pedagang pasar juga semakin dikenal dan pembelinya bertambah,” ujar Narti.
Meski menawarkan kemudahan, penggunaan layanan digital juga menuntut kesiapan pedagang dalam mengelola pesanan dan menjaga kualitas barang. Kejelasan informasi harga, jenis produk, serta ketersediaan stok menjadi hal penting agar pembeli menerima barang sesuai pesanan. Untuk bahan pangan segar, kualitas dan kondisi produk juga perlu mendapat perhatian.
Bagi pedagang tradisional, pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menjual barang secara daring, tetapi juga menyangkut pelayanan dan komunikasi dengan pelanggan. Namun demikian, layanan digital tidak serta-merta menggantikan kebiasaan belanja langsung. Sebagian masyarakat masih memilih datang ke pasar untuk memeriksa kesegaran bahan makanan dan membandingkan harga antarpenjual.
Selain cara belanja, perkembangan pembayaran digital turut menjadi alternatif dalam transaksi. Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) memungkinkan pembeli membayar dengan memindai kode QR melalui aplikasi perbankan atau dompet digital yang mendukung layanan tersebut.
Bagi pedagang yang telah menyediakan QRIS, transaksi nontunai dapat mengurangi kebutuhan menyiapkan uang kembalian. Sementara bagi pembeli, metode ini membantu ketika tidak membawa uang tunai.
Puah, salah seorang pembeli, menyebut kemudahan memilih barang dan tersedianya pembayaran digital menjadi pertimbangan dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari. “Kalau bisa memilih kebutuhan dapur dengan lebih praktis dan pembayarannya juga bisa menggunakan QRIS, tentu membantu. Apalagi ketika sedang terburu-buru atau tidak membawa uang tunai,” ungkap Puah.
Meski demikian, penggunaan QRIS tetap bergantung pada ketersediaan layanan pembayaran di pedagang serta dukungan jaringan internet dan aplikasi yang digunakan pembeli.
Secara umum, digitalisasi pasar tradisional dinilai dapat menjadi peluang bagi pedagang untuk mempertahankan pelanggan sekaligus memperluas jangkauan penjualan. Melalui platform seperti Pasar.id, pedagang memiliki alternatif untuk memperkenalkan barang dagangannya kepada masyarakat yang terbiasa menggunakan layanan digital.
Namun, keberhasilan pemanfaatan teknologi tetap bergantung pada kualitas produk, kejelasan informasi harga, ketersediaan stok, serta kemampuan pedagang memenuhi kebutuhan pembeli. Bagi masyarakat, kehadiran layanan digital menambah pilihan: tetap berbelanja langsung ke pasar atau memanfaatkan layanan daring sesuai situasi dan kebutuhan.
Perkembangan ini menunjukkan pasar tradisional memiliki ruang untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi tanpa kehilangan perannya sebagai tempat masyarakat memperoleh kebutuhan pokok. Dengan dukungan layanan belanja daring dan pembayaran QRIS, aktivitas jual beli kebutuhan dapur diharapkan semakin fleksibel, dengan kepercayaan pembeli dan kualitas pelayanan tetap menjadi faktor penentu.