BERITA TERKINI
Au Lau Kembangkan Desa Kerajinan Teh Hijau Berkualitas, Perkuat Standar Produksi hingga Pemasaran

Au Lau Kembangkan Desa Kerajinan Teh Hijau Berkualitas, Perkuat Standar Produksi hingga Pemasaran

Pada awal 2026, aktivitas di perkebunan teh Kelurahan Au Lau terlihat ramai. Para petani memangkas, memotong, dan merawat tanaman secara serempak untuk menyambut musim tanam baru. Barisan tanaman teh ditata rapi, menjadi penanda dimulainya siklus pertumbuhan berikutnya.

Wakil Ketua Komite Rakyat Kelurahan Au Lau, Nguyen Quoc Huy, menjelaskan bahwa sebelumnya sebagian besar lahan teh berada di dataran rendah dan kawasan rawa sehingga menyulitkan produksi pertanian. Seiring upaya perbaikan lahan oleh warga dan arah pembangunan yang ditetapkan pemerintah setempat, teh kemudian semakin menegaskan perannya sebagai tanaman utama dan menjadi fondasi pembentukan desa kerajinan tradisional.

Menurutnya, pada tahap awal masyarakat banyak menanam varietas teh lama yang berproduksi rendah dan memberikan efisiensi ekonomi terbatas. Melalui promosi dan dorongan pemerintah daerah, warga beralih menanam varietas Bat Tien yang dinilai memiliki keuntungan ekonomi lebih baik. Peralihan ini dilakukan secara menyeluruh dan, setelah bertahun-tahun perawatan, area Bat Tien menjadi lebih terkonsentrasi sebagai sumber bahan baku utama untuk pengolahan teh hijau berkualitas tinggi.

Saat ini, Kelurahan Au Lau memiliki sekitar 210 hektare perkebunan teh. Dari jumlah tersebut, lebih dari 41 hektare termasuk dalam kawasan desa pengolahan teh hijau berkualitas tinggi, melibatkan lebih dari 200 rumah tangga. Produksi tunas teh segar tercatat lebih dari 400 ton per tahun. Desa ini disebut sebagai salah satu dari 23 desa kerajinan yang ada di provinsi tersebut, serta berkontribusi pada diversifikasi model produksi pertanian dan penciptaan lapangan kerja yang lebih stabil bagi pekerja pedesaan.

Untuk meningkatkan nilai produk sekaligus memperluas area produksi, pemerintah kelurahan membimbing warga menanam teh sesuai prosedur aman dan menerapkan standar VietGAP. Rumah tangga mendapat pelatihan mengenai teknik perawatan, penggunaan pupuk, serta aplikasi pestisida, dengan tujuan menjaga kualitas bahan baku dan keamanan konsumen.

Di sisi pemasaran dan identitas produk, pemerintah daerah juga mengoordinasikan dukungan pengembangan kode QR untuk ketertelusuran dan indikasi geografis teh hijau. Selain itu, dikembangkan pula produk teh hijau yang meraih sertifikasi OCOP bintang 3 untuk memudahkan promosi dan konsumsi di pasar.

Salah satu keluarga yang telah lama membudidayakan teh adalah keluarga Nguyen Thi Dao di kawasan permukiman Truc Thanh. Saat ini, keluarga tersebut menanam dan merawat lebih dari 1 hektare teh Bat Tien. Dengan iklim dan kondisi tanah setempat yang dinilai sesuai, tanaman teh menghasilkan panen secara teratur dan menjadi sumber penghasilan keluarga.

Nguyen Thi Dao menyebut panen dilakukan rata-rata setiap 40 hari. Setiap panen menghasilkan lebih dari 150 kg teh kering, dengan harga jual berkisar 250.000–300.000 VND per kilogram. Ia juga mengatakan keluarga menerima pendampingan pemerintah, mulai dari teknik penanaman dan perawatan hingga pengolahan, spesifikasi pengemasan, dan desain produk, sehingga teh kering yang dihasilkan diminati konsumen.

Berbasis pada desa kerajinan tradisional, distrik Au Lau turut memobilisasi warga untuk membentuk koperasi teh hijau berkualitas tinggi. Pembentukan koperasi ini bertujuan memperkuat keterhubungan antarrumah tangga penanam teh dan menstandarisasi proses dari penanaman, perawatan, panen, pengolahan, hingga penjualan.

Wakil Direktur Koperasi Produksi Teh Hijau Berkualitas Tinggi Bao Hung di Kelurahan Au Lau, Vu Ngoc Te, mengatakan kegiatan budidaya teh di koperasi mengikuti prosedur teknis VietGAP secara ketat, membatasi penggunaan pestisida kimia, serta memprioritaskan produk biologis ketika tanaman terserang hama dan penyakit.

Meski penerapan model ini menghadapi kendala awal akibat kebiasaan bertani yang dinilai sudah ketinggalan zaman, Vu Ngoc Te menyebut manfaatnya mulai terlihat dalam praktik. Di antaranya, menjaga kesehatan produsen, melindungi lingkungan permukiman, dan memberikan ketenangan bagi konsumen saat mengonsumsi produk yang bersih dan aman.

Pengembangan desa pengolahan teh hijau berkualitas tinggi disebut berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat, sekaligus mendorong pembangunan sosial ekonomi di Kelurahan Au Lau. Pada 2025, pendapatan per kapita rata-rata kelurahan mencapai 73 juta VND per tahun, dengan jumlah rumah tangga miskin turun menjadi 3 dan rumah tangga hampir miskin menjadi 10.

Ke depan, Kelurahan Au Lau menyatakan komitmen untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas desa kerajinan tradisional, sembari terus memperbaiki kualitas bahan baku dan melakukan inovasi dalam metode produksi.